Ikhtitam Dars Risalatul Muawwanah - 15 Januari 2025

 ✨ Ikhtitam Dars Risalatul Muawwanah

🎙 Ustadzah Dara Husaien

🗓 15 Januari 2025

📍 Halaman 196 - Bait 2

•••

Ada banyak wasiat yang ditulis Imam Haddad, yang dititip Allah lewat Nabi-Nabi kita, dan dari awal hingga akhir dibaca, semua merupakan rujukan untuk kembali kepada Allah. Wasiat ketika ada suatu amarah dalam diri kita, maka datanglah kepada Allah, kalau kita ga bisa meredam amarah kita, datang kepada Allah, cerita, ada masalah apa? Amarah apa yang membuatmu marah seperti itu? Dan Allah akan meredam amarah itu, sehingga kalau kita marah ada pegangan. 

Makanya Imam Haddad bilang dari awal bagaimana kita mendekat, mengenal allah dengan baik, bagaimana kita membekap diri kita dari maksiat, kita ga melakukannya, karena ketika engkau marah, datanglah kepada allah, kita ga bisa jauh dari allah, kita akan datang ke allah terus, suka duka, kita butuh allah untuk menuntun kita. walau seberapa besarnya nafsu kita, bikin kita lupa, salau setelah melakukan maksiat datang mohon ampun maksiat lagi. 

bahkan Allah memeberikan wasiat kepada Nabi Daud, Nabi Isa, Nabi Musa, bahwa ketika ada seorang sekalipun yang membuat nafsu kita bergejolak, datanglah kepada allah, ceritakan, maafkan mereka, walaupun saat itu kita belum sepenuhnya memaafkan org itu. 

Minta allah jaga hati kita, tahan nafsu kita ketika kita ga bisa nahannya sendiri, datang kepada allah. Karena wasiat di akhir akhir ini adalah bagaimana kita kembali kepada allah. 

Dalam salah satu syair Jamaluddin Rumi dikatakan, "Tuhanku, jangan tinggalkan aku bahkan di tanganku sendiri, kuserahkan diriku kpd-Mu, jangan kembalikan aku ke diriku sendiri." krn tngn ini pun ga bisa dipercaya. karena tanpa kita sadari, setiap kita melakukan maksiat, lalu kita datang kpd allah bertaubat, menyesal, tapi ada masa masa setelah itu keinginan sedikit untuk kembali ke kesalahan yang sama, ingin mengulang, "nanti taubat lagi deh, nanti datang lagi deh", nah itulah diri kita saat itu adalah diri kita yg ga bisa kita percaya. 

Hal hal yang seperti itu tanpa kita sadar membuat kita ketika kita duduk di ⅓ malam, duduk, bedoa, ada ratapan kosong, pengen doa dan nangis tapi gabisa, dipaksa juga ga keluar, kenapa? karena air mata kita pun tau bahwa air mata yg keluar saat itu adalah air mata kemunafikan dalam diri kita sendiri. 

Makanya wasiat terakhir ini, intinya adalah bagaimana kita kembali kpd allah, biar kita ingat allah terus, biar kita ga mengulangi kesalahan yg sama, kita ga menemui masa ketika komunikasi sama allah di ⅓ malam itu yg harusnya romantis, khusyu, tenang, senang, sedih, tapi jadi kosong, gada rasa apapun, nangis pun ga keluar air matanya, karena kesalahan yg kita ulang terus menerus, dan kita tutup dengan permohonan ampun kepada allah, kita balik lagi. Tpi bukan berarti ketika kita jatuh, kita ga kembali, justru kembalilah kepada allah sekosong apapun kita saat itu. 

Datang terus ke allah walau ada bisikan bisikan, jangan pernah membatasi doa kita kepada allah hanya krn kita merasa pendosa. lanjutkan, kita berdoa bukan dilihat dari siapa kita tapi untuk siapa, untuk allah bukan untuk kita. Dan kita tau allah punya cinta yg besar atas kita, dengan segala doa kita, sebesar apapun dosa kita, datanglah kepada allah, kekosongan itu lama lama akan hilang asal kita ga kembali ke maksiat itu. Awalnya mungkin kekosongan itu akan ada, tapi lama lama akan berubah dengan ketenangan, rasa dalam, dengan keyakinan Allah mengobati kita dengan cara Allah sendiri. 

Makanya dikatakan di sini, Allah mengatakan kepada Nabi Daud as, "Aku mencintai siapa yang mencintai-Ku, Aku duduk bersama mereka yg ketika duduk mengingat Aku, Aku jadikan mereka teman ketika mereka menjadikan-Ku teman." Sadar kita, tapi hati kita yang kadang menganggap spele itu, ketika kita terbiasa menganggap spele hal hal seperti itu, itulah yg membuat kita sulit untuk dekat dengan allah. 

Kata kata "nanti nanti" itulah yang akan membuat kita menyesal, maka kalau bisa sekarang kenapa harus nanti? Belum dapet hidayah? Cara dapet hidayah itu byk, ad yg datang sendiri, ada yg dicari. kalau kita ga dapet, kita maksa, kita minta ke allah, kita pengen jatuh cinta spt mereka yg jatuh cinta kepada Allah. 

Kalau kita liat orang yang besarnya ujian mereka, tpi mereka masih tersenyum kepada org lain, karena mereka tau cinta-Nya kpd hamba hamba-Nya. Makanya sering kita tanya, "wahai hatiku apa kabarnya?" Kalau sudah mulai melenceng, pegang lagi dada, rasakan, allah masih ngasih nikmat sebesar ini, di bawah masih ada yg lebih susah tpi tersenyum lebar, kenapa ana engga? 

Bahkan dikatakan oleh Allah, "datanglah kepada-Ku wahai hamba-Ku dengan air mata yang berlinang, dengan hati yang khusyu, Aku akan ijabah doa doamu." karena Allah dekat, allah dkt bgt sama kita, allah liat kita, allah tau apa yang sedang kita rasain sekarang, apa yanh ada di pikiran kita skrg, apa yg buat gelisah, tapi kita hanya perlu datang, doa dgn khusyu, cerita ke allah. Kalau ita datang tpi air mata kita ga keluar? Hati ga khusyu? Kalau memang ada pikiran kita ga konsen, tetapkan di hati kita untuk tetap khusyu dengan allah, dan air mata itu akan keluar. Sudah berusaha untuk khusyu tpi ga keluar juga? Tanya ke hati, saat kita datang ke allah, yang kita mau apa? Allah kuatkan kita atau £llah selesaikan semua masalah kita? Minta dikuatkan sama Allah, Allah akan kuatkan kita tanpa kita tanya kenapa. Tapi kalau kita minta allah selesaikan tpi ga minta dikuatin kita ga kuat kuat. Minta kuat dulu, InsyaAllah allah mudahin. 

Allah mewasiatkan untuk memperbaiki hubungan kita juga dengan orang-orang di sekitar kita. Kalau kita melihat orang fakir, kkta berinteraksi dengan interaksi yang sama dengan orang kaya. interaksi kita, semua sama. Karena faqir, kaya, itu milik allah semua, allah yang kasih. Makanya, faqirkah dia, kayakah dia, perlakukanlah sama rata, karena di hadapan allah semua sama. Hatinya dan amalnya, itu bagian dari wasiat. 

Wasiat lainnya kepada Nabi Daud as:

"Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang berdosa dan berikanlah peringatan kepada org-org yang mengakui dirinya adalah orang yang jujur." Biasanya orang yg punya dosa itu dia sadar dia berdosa, dia akan lebih hati hati, dia ga akan behenti istighfar, Allah ampuni karena dia sadar dan datang kepada Allah untuk dihapuskan dosanya, beda dengan orang yang merasa dirinya jujur, baik, akan ada rasa iri hati di perasaan orang ini, merasa begitu tpi ga datang kepada allah, maka diberikan peringatan. 

Kita tau kita pendosa, kita sering melakukan maksiat sengaja atau engga, berulang atau engga, kecil atau besar, sering atau jarang, tapi ketika kita bertaubat ga sama dengan dosa yg kita lakukan, karena taubatnya lebih jarang dripada dosa yang kita lakukan. itu yang menjadi hijab antara kita dengan Allah. kita sering denger "Allah lihat kepada hati kita" allah tau amal kita, bagaimana kita menjaga hati ini? Supaya ketika dia diberikan bersih, dan kita kembalikan dengan yang sama, walau banyak luka yang diperban untuk membersihkan dosa dosa kita, daripada kita kembalikan dalam keadaan rusak. Karena nanti akan ada masa kita bertemu dgn allah, nanti apa yg akan kita sampaikan? 

Makanya, rangkuman dari awal hingga akhir, ialah kembalilah kpd allah. dan ayat "masuklah ke Surga-Ku"

Ketika kita kembali dan masuk ke surga allah, dengan melihat keadaan kita sekaran, sanggup ga? Malu ga? Kita akan takut panik gelisah. ketika kita melakukan maksiat, tiba-tiba guru kita bilang, "ana pengen ketemu ama ente sebentar" dan kita tau guru kita bisa liat kalau kita lagi bermaksiat, guru kita tau saat itu, ketika ada ajakan guru kita tersebut, pasti kita takut, gelisah, kita mandi taubat, solat taubat, istighfar, takut... Tapi apakah hal itu bisa kita lakukan ketika kita datang kepada Allah? Jangankan mandi, kita aja dimandiin. jangankan istighfar, kita aja gatau kapan dicabut nyawa kita. Sempat kah kita beristighfar saat itu? 

Kalau kita dengan manusia punya ketakutan ketika ingin bertemu dengan orang yg kita hormati, kita takut salah, kenapa kita ga takut ketika kita berhadapan dengan allah? ga takut ketika allah liat kita?

Wahai hatiku sampai kapan merasa paling berani di hadapan allah? 

Secara lisan mungkin engga, tpi perbuatan kita, amalan kita itu seakan akan "allah akan memaafkan kita" tapi dgn menganggap remeh itu secara ga langsung itu kita sangat berani dan meremehkan allah. Lalu dengan keadaan seperti ini bagaimana kita bisa dekat dgn allah? 

imam Haddad ngajarin kita dari awal hingga akhir bahwa PDKT dgn Allah apakah gampang? Sulit. 198 kertas dalam kitab ini imam haddad ngajarin kita, susah. makanya di akhir kalimat dibilang untuk datang kembali ke Allah. 

Diakhir Allah katakan, "wahai Daud, dengarkan dari-Ku, dan ini betul, bahwa kalau ada seorang hamba yg datag kepada-Ku dengan semua dosa yang dia lakukan, dia khusyu meminta ampunan dan menyesal, dia mengakui tidak ingin kembali dengan perbuatan itu, dari hatinya yg paling rapuh dia datang kepada-Ku, maka Aku akan temui dia, lebih cepat dari terbangnya burung dri langit ke bumi". 

Allah lebih cepat, Allah rengkuh, dan ampuni semua dosanya. Kita tau sberapa besar cinta allah kepada kita. Karena allah mencintai kita bukan karena siapa kita, tapi karena siapa Allah sebenarnya yang mencintai kita ga itung itungan, mencintai kita dengan cara-Nya. 

Kalau kita ngeliat kita adalah pendosa, kita beristighfar dengan Allah akan disampein kita sama allah dengan cintanya. PR kita adalah bagaimana menjadikan cinta itu terbalas. Allah udanh ngasih seluarbiasa itu, masa kita mau ngasih setengah? Dari semua cinta Allah, buat kita pengen deket sama allah. Tapi pengen maksiat terus? makanya diajarkan ketika kita marah, datanglah kepad allah, ceritakan semua kepada allah. 

Jadi kalo mau maksiat, tahan, istighfar, bilang gamau, kalau kita ga bisa menahan diri kita, kita punya allah yang bisa menahan kita, mengontrol nafsu kita. Supaya ketika kita pengen ngelakuin maksiat kita ingat Allah. 

Sebut Allah sekali aja, kalau kita betul manggilnya, maka maksiat itu akan batal kita lakuin. Tapi kalau dari awal kita panggil Allah bukan dengan panggilan pertolongan, bukan diminta untuk ditahan tapi untuk diberikan kesempatan, maka maksiat itu akan terus berjalan. 

Jadi, InsyaAllah banyak PR yang harus kita lakukan dari awal hingga akhir, apa yg kita dapat dari kitab ini? Yg diamalkan dari kitab ini? Sudah belum hati kita bergetar ketika dengar kalimat Laa ilaa ha illallah? Sudah belom hati kita malu dan sedih? Kita menutup kitab ini di bukan Rajab, di bulan taubat. Jadi kita diminta untuk membersihkan diri kita, perbanyak istighfar, Kita perbaiki, perbanyak kesadaran diri kita akan dosa di hadapan Allah dan makhluk lainnya. Jadi ada hablumminallah dan hablumminannas. 

Jadi tanyakan terus sama hati kita, ketika kita sedih senang gelisah, bagaimana muamalah kita dengan allah? Keadaan kita dengan allah? Adakah keraguan atas semua hal yang allah berikan kepada kita? Boleh ga nangis ketika ga sesuai harapan? Boleh, tapi jangan berhenti untuk mendekatkan diri kita kepada Allah, sampai kapanpun, kita dilahirkan, hidup serta akhir hayat kita sama sama dengan Allah, Rasulullah, guru guru kita, dan org-org yg kita cintai, supaya nanti ketika kita kembali yg kita tunjukkan adalah kebahagiaan. 

Ditutup doa oleh Imam Haddad.. 


QNA : 

1. Kalau ada orang yg tiba tiba diem, walau kita gatau masalahnya apa, harus seperti apa? 

=> ketika kita sudah meminta maaf, sekali gada respon, dua kalo tiga kali gada respon, kita negur ga direspon, makin dijauhi, maka berlakukan seperti kita biasa, tegur sapa seadanya, terserah dia mau menjawab atau tidak, karena komunikasi ini kita berharap kepada Allah. Jangan ikut diemin. 

2. bagaimana cara agar kita bisa ttp istiqomah dalam mujahadah yg kita lakukan? Bagaimana cara menjaganya? & jika kita meninggalkan bagaimana cara mengganti amalan yg kita tinggalkan tersebut? 

=> istiqomah ada 3, cari temen baik, menuntut ilmu hadir majelis taklim, dan berdoa, karena yg paling penting adalah pertolongan dari Allah. Kalau sholawat dsb bisa di qodho, kalau solat sunnah, bisa di qodho juga. 

3. Perihal rasa cinta kepada Rasulullah itu akan jauh mudah saat kita dekat dengan orang yang sudah dekat dgn Rasulullah...Namun d situ ada ketergantungan dimna ada rasa harus sama temen ini nih saya melangkah ...Apakah itu ada sebuah kesalahan...Sehingga kadang kita menuntut harus sama mbak ini nih....

=> ketika kita ingin dekat dengan Nabi saw, kita akan mudah mendapatkan cinta itu ketika kita sudah deket dengan orang yang mencintai Nabi SAW. Cuma kadang kita menuntut ingin dekat dengan orang itu terus. Kita memang butuh teman baik, teman yang membuat kita lebih mudah mencintai Rasulullah, tapi di sisi lain, semua orang akan kembali masing-masing di hadapan allah, masuk kubur sendirian. Ingat, ada masa ketika kita ga bisa memaksakan atau selalu bersama dengan orang ini, ada masa kota usaha dengan usaha kita sendiri, ketika dia ga bisa nemenin kita, berarti kita harus bisa sendirian. Tapi kalo kebiasaan, itu bisa jadi kesalahan. Boleh melangkah bareng, namun ada masanya kita sendirian. 

•••

Wallahua'lam bishowab

Mohon maaf apabila ada kekurangan ataupun kesalahan dalam penulisan

Halal share dan di mohon untuk tidak menghilangkan sumber catatan, BaraakAllah Fiikum.

Salam cinta 💙

 𝓜𝓽. 𝓓𝓪𝓻𝓾𝔃𝓩𝓪𝓱𝓻𝓪

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dars Risalah Muawanah - Ustadzah Dara Husaien

Dars Risalah Muawwanah 11 Mei 2024

Dars Risalah Muawwanah 2 Desember 2023