Dars Risalah Muawwanah 11 Mei 2024
✨ Dars Risalah Muawwanah
💌 Khatam (2)
🎙 Ustadzah Dara Husaien
🗓 11 Mei 2024
•••
Jika terakhir kita bahas tentang bagaiaman kita jadikan diri kita lebih tawadhu, tidak ada kesombongan dalam diri kita, semua yang kita lakukan itu adalah betul betul untuk Allah. Ga ada niat untuk menjadikan diri kita lebih baik daripada makhluk yang lain, tapi bagaiaman kita mencari pandangan dari Allah SWT.
Dituliskan oleh Imam Haddad, hadist Nabi SAW bahwa saat itu Rasulullah SAW bertemu dengan Allah SWT, aku melihat aku menatap Allah dalam tidurku, saat itu allah mengatakan kepadaku sebuah hadist qudsi atau kalam, allah berkata "wahai Muhammad" kata Rasulullah "labbaik". Maka kalau ada yang manggil kita, bagian daripada ittiba' sama Rasulullah juga kita jawabnya " Labbaik", "marhabaa" juga boleh, tapi labbaik lebih sopan. kita ittiba' sama Nabi SAW. Allah mengatakan, yang di wasiatkan oleh Hubabah Nur, setelah solat baca
اللهم إني أسألك فعل الخيرات وترك المنكرات وحب المساكين
وإذا أردت بعبادك فتنة فاقبضني إليك غير مفتون
itu di wasiatkan Hubabah Nur, setiap selesai salam. Itu disampaikan juga kepada Rasulullah, kalau kamu udah selesai solat, untuk menyempurnakan solat kamu maka bacalah doa itu. Yang artinya, Allah mengajarkan untuk meminta kepada Allah, "ya Allah aku memohon kepada-Mu untuk melakukan perkara perkara yang baik, dan meninggalkan perkara-perkara yang munkar, dan mencintai orang-orang yang miskin, Apabila engkau menginginkan kepada hambamu ini sebuah fitnah, maka genggamlah ruh ku agar aku tidak tertimpa fitnah itu." doa ini cakep banget kalau kita amalin doa itu. kadang kita udah selesai solat, kita berdoa sama allah, minta tolong bahwa setelah ini aku menginginkan perkara kebaikan, aku tinggalkan perkara yang munkar yang Allah ga suka. dan jadikanlah aku hamba yang mencintai orang-orang yang miskin, Orang-orang yang membutuhkan. Dan ketika Engkau menginginkan dari hamba-Mu ini sebuah fitnah, genggam ruh ku sehingga aku tidak tertimpa fitnah itu, atau ketika harus ditimpa fitnah pun aku ada di dalam genggaman-Mu ya Allah.
Kayak betul-betul doa dalam wasiat ini untuk kita betul-betul berpegang sama Allah, betul-betul menyandarkan diri kita kepada Allah. untuk betul-betul kembali kepada Allah. kayak gimana pun keadaan yang kita lalui, kayak gimana pun kondisi kita saat itu, sebesar apapun ujian fitnah yang datang kepada kita, ketika kita minta sama Allah untuk menggenggam kita, sebesar apapun fitnahnha itu ga akan bisa mengalahkan bagaimana allah menggenggam kita di dalam genggaman-Nya. Allah punya cara sendiri untuk menjaga setiap hamba-Nya.
Jadi sebesar apapun keluh kesah, ujian, cobaan, fitnah yang Allah berikan kepada kita, kita ingat bahwa Allah selalu menyediakan alasan kenapa ketika Allah memberikan kita ujian sebesar itu, atau Allah mendatangkan kita fitnah, lalu allah biarkan kita menghadapi itu, Allah punya alasan setelahnya bahwa allah sedang menyiapkan kepada kita hal-hal yang ga terduga-duga. Jadi ketika kita minta, "ya Allah genggam hamba-Mu ini" Jadi sebesar apapun ujiannya, fitnahnya, kita akan siap-siap menerima hadiah dari ujian tadi.
Makanya kata Hubabah Nur, selesai solat baca doa itu. mau selesai solat atau dalam solat boleh, boleh dibaca dalam solat apapun, solat wajib boleh, solat sunnah boleh. Semakin banyak kita berdoa, itulah jalan kita semakin dekat dengan Allah SWT, sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Selanjutnya, masih tentang hadis qudsi, "wahai anak Adam, bangun, ketika kamu bangun kepada-Ku, maka Aku akan berjalan kepadamu" (kita baru bangun tapi Allah udah melangkah duluan kepada kita) "wahai aak Adam, kamu bangun untuk menuju kepada-Ku, maka Aku akan berjalan kepadamu. Dan ketika kamu berjalan kepada-Ku, maka ketahuilah Aku sedang berjalan dengan lebih cepat kepadamu. Wahai keturunan Adam, ingatlah Aku satu jam, dari awal masuk siang dan satu jam di malam hari, maka akan Aku cukupkan waktu di antara keduanya." Jadi kata Allah, ketika kita mengingat Allah di awal pagi, lalu di akhir malam, maka dari pagi sampai malam itu Allah melindungi kita dengan memberikan kecukupan dengan luar biasa.
Dalam dua hadist ini ada dua perkara, perkara yang pertama adalah ketika keturunan Nabi Adam as itu mendatangi Allah, ingin mendekatkan dirinya kepada Allah, ketahuilah kata Allah, sebelum dia mendekatkan dirinya kepada Allah, dia baru ingin dekat, Allah udah deketin kita, Allah udah jalan kepada kita, Allah udah menyambut kita, Allah sudah berjalan menuju kita. Apalagi ketika kita sudah berjalan kepada Allah, disitulah Allah akan menyambut kita, Allah genggam tangan kita, Allah bimbing kita, karena Allah menanti kehadiran kita dari baru ingin dekat dengan Allah, baru "kayaknya ana harus tobat deh, kayaknya ana harus kembali ke Allah deh" baru kalimat seperti itu, Allah udah berjalan menanti kehadiran kita. Cuma terkadang yang sering kita lakukan ketika kita sudah ada pemikiran seperti itu, berubah menjadi lebih baik, dan Allah sudah berjalan menuju kita, kita yang putar balik, kita ya g memilih untuk membatalkan jalan kepada Allah, kita berbalik, kita sibuk lagi sama dunia kita, kita sibuk lagi dengan kesibukan kita yang bikin kita jauh dari Allah. Padahal kita tau saat kita ingin mendekatkan kepada Allah, Allah udah berjalan menuju kita. Taoi cinta Allah yang begitu besar, seberapa kalipun kita ingin datang, seberapa kalipum Allah ingin menyambut kita, lalu kita tepis sambutan Allah, Allah ga eornah berhenti untuk kembali menjemput waktu kita ingin kembali kepada Allah. Allah ga pernah ninggalin. kalau dibayangin udah berapa kali kita ngecewain Allah? berapa kali bikin Allah terluka dengan sikap, kebiasaan, kelakuan, dengan php kita kepada Allah? Katanya pengen menghabiskan waktu dengan Allah, tapi habis itu kita balik arah lagi dan sibuk sama dunia kita.
Ada banyak daripada ulama yang mengatakan, "apakah kita harus meninggalkan dunia dan seisinya? lalu menyibukkan diri kita dengan Allah aja?" "Tidak meninggalkan, tapi mengambil seperlunya" karena ada beberapa yang kita butuhkan, misal kita butuh kerja untuk bisa makan, yang mana makan itu bisa membuat kita semngat ibadah kepada Allah. boleh begitu, tapi jangan sampai kita habiskan waktu kita untuk kerja sampai kita lupa bahwa kerja yang kita dapat pun dari Allah, rezeki pun dari Allah, Allah yang kasih kemudahan itu. Taoi ketika kita memilih balik badan, dengan semua hal yang diberikan Allah kepada kita, sebenarnya kalau kita tafakkur sedikit saja, nikmat yang allah berikan kepada kita saat ini, yang kita pikir itu dari usaha kita, itu adalah dari Allah, allah yang kasih, tapi kita yang merasa memiliki lebih. ini yang bahaya. Semakin besar perasaan ini ada di hati kita, maka akan semakin sulit bagi kita untuk berjalan kepada Allah. Jadi kata Allah, "ketahuilah ketika kamu baru berdiri kepada-Ku Aku sudah menghampirimu, ketika kamu menghampiri Aku Aku sudah berlari kepadamu, ketika kamu pikirkan Aku sebentar saja di awal siang dan di akhir malam, ketahuilah semua itu Aku berikan kecukupan di dalam hidup kamu" entah kecukupan dhohir ataupun batin. Karena cara allah memberikan kecukupan kepada kita kan beda, jadi cara kita menikmati kecukupan yang Allah berikan bukan dengan melihat dari apa yang kita mau, tapi apa yang sudah Allah berikan.
Setelahnya, dikatakan bahwa ada empat hal yang mana ketika kita melakukan hal tersebut, Allah sedang memberikan kumpulan kumpulan kebaikan kepada kita, juga kepada anak cucu kita. Di antaranya,
1. bagaimanan kita memperbaiki hubungan dengan Allah.
Kalau kita ingin mendapatkan perkara perkara yang baik, maka yang pertama adalah bagaimana kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah. ketika kita menjaga hubungan baik dengan Allah, dengan cara ibadah, beribadahlah kepada-Ku dan jangan musyrik. Maka ketika kita melakukan hal tersebut itu sama dengan memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
2. Hubungan kita dengan Rasulullah.
yaitu dengan mengerjakan amalan amalan seperti yang diajarkan oleh Rasulullah. Ketika kita mengikuti sunnah sunnah Nabi, maka saat itu juga Allah sedang memberikan balasan yang luar biasa kepada kita. Karena kita sedang sibuk memperbaiki dirinya kita, sibuk membenarkan hubungan kita dengan Rasulullah SAW dengan ittiba' sunnah-sunnah Nabi. Kalau ga bisa semua, satu-satu, pelan-pelan, jangan semuanya.
3. Hubungan kita, Allah dan Rasulullah.
perbanyak doa, karena disaat kita berdoa itu Allah sedang memberikan ijabah. Doa yang mana di dalam doa itu kita melibatkan Allah dan Rasul, tawassul sama Rasulullah di kencengin, doa sama Allah ga diberhentiin. Kalau misal itu yang kita sibukkan, "maka Aku akan ijabah doa doa kalian" Karena terkadang ketika kita meminta doa sama Allah, keseringannya meminta untuk kita terus lupa tawassul sama Nabi SAW. Padahal kita sering banget denger atau baca bahwa kalau ingin mendapatkan cinta dari siapa yang kita cintai maka cintailah siapa yang dicintainya, atau, mintalah pertolongan lewat siapa yang paling dicintainya. Kita tahu bahwa Allah mencintai Rasulullah. Supaya lebih mudah doa kita diijabah oleh Allah, maka libatkan Rasulullah, tawassul, minta tolong. Karena salah stau kuncinya di situ. Maka hubungan yang ketiga cara memperbaiki hubungan dengan Allah dan Rasulullah adalah dengan memperbanyak doa. Doa yang dimana dalam doa tersebut kita melibatkan Rasulullah juga, supaya lebih mudah diijabah oleh Allah SWT.
4. Hubungan kita, Allah, Rasulullah dan hamba hamba Allah.
Dikatakan bahwa kalau berurusan dengan makhluknya Allah, maka bagaimana kita memperlakukan semua hamba-hamba Allah dengan baik, dengan ikhlas, dengan mengharapkan ridhonya allah, mengharap dipandang oleh Rasulullah. Jadi seberapa atau sesusah apapun hamba-hamba Allah ketika kita pengen baik tapi balasannya tidak sesuai dengan yang kita inginkan, apakah tetap melakukan kebaikan atau berhenti? Tetep melakukan kebaikan. Karena Rasulullah mengajarkan kepada kita, ketika di dalam nasheed di kitab Aqidah, dikatakan sebesar apapun hamba Allah melakukan kejelekan kepada kita, maka jangan balas kejahatan itu dengan kejahatan. Karena Rasulullah mengajarkan ketika prnah melakukan hal yang tidak baik kepada kita, maka tugas kita adalah tetap berbuat baik kepada mereka. Karena kejelekan tidak dibalas dengan kejelekan, tapi kejelekan dibalas keikhlasan. Balas dengan ikhlas, bagaimanapun orang terhadap kita, kita tau tujuan kita buat Allah, kita tau yang kita tuju adalah Rasulullah. Kalau kita kembali kepada siapa tujuan kita, maka seperti apapun orang-orang di sekitar kita, walaupun tidak sesuai dengan yang kita inginkan, ketika kita tau tujuan kita mencari perhatian Allah, ke Rasulullah, jadi kalau ada makhluk yang ga suka kita ga peduli, karena kita mengharapkan Allah dan Rasulullah yang suka. yang penting dengan makhluk tersebut kita harus tetap berbuat baik terhadap orang-orang di sekitar kita. Tapi kalau semisalnya kita semakin baik, berusaha ikhlas, dia semakin menguji iman, karena memang semakin kita ingin mengikhlaskan hati kita, semakin kita ingin mengajarkan untuk memahami keadaan orang-orang yang ga suka sama kita, semakin Allah tunjukin bahwa orang-orang ini ga suka sama kita, orang-orang ini menguji iman kita. Tapi semakin kita mengikhlaskan itu, semakin kita meyakinkan hatinya kita bahwa kitapun juga makhluk yang ada salah, kitapun makhluk yang sering khilaf. Maka bagaimanapun orang-orang yang tidak memperlakukan kita seprti yang kita harapkan, kita akan tetap memperlakukan mereka dengan baik. Jadi kalau semisalnya ada orang yang kita udah baik, tapi mereka kurang baik, jangan salahkan mereka, lihat diri kita, bisa jadi ada yang salah dari diri kita ketika melakukan hal yang kita kira baik itu.
Makanya, ada ketidaksukaan mereka kepada kita. Maka kita mengishlahkan diri kita, bukan mereka. Kadang kita mengislah orang lain dan lupa mengislahkan diri kira sendiri. Coba kita lihat diri kita, "kayaknya ana deh yang ngelakuin kesalahan" Kalaupun setelah kita islah pada diri kita dan tidak menemukan, maka saat itu kita harus istighfar banyak-banyak, bisa jadi itu setan yang ngebisikin "ente tuh ga salah, ente tu orang baik" jadi hati-hati.
Kita islah diri kita banyak banyak, karena kita punya tujuan, kita pengen dikumpulkan dengan dan menjadi orang-orang yang baik, maka kita perbaiki hubungan kita dengan allah, dengan Rasulullah, dengan Allah dan Rasulullah, dan dengan Allah, Rasulullah dan hamba-hambanya Allah. kalau kita menjaga hubungan baik dengan empat perkara ini, maka kita sedang dalam perkara yang baik.
Selanjutnya, dikatakan Nabi Ibrahim menarik 10 suhuf, dan di salah satu suhuf itu dikatakan untuk mereka yang berakal, maka orang yang berakal adalah orang yang memegang lisan mereka. Memegang di sini artinya mereka bisa mengendalikan lisan mereka. jadi bukan hanya bisa mengendalikan lisannya, mengendalikan di sini yakni yang keluar dari perkataannya itu adalah kalam kalam yang berfaedah, yang bisa mengingatkan bukan hanya pada dirinya saja, tapi juga pada orang lain, tapi lebih ke dirinya sendiri.
Dan untuk orang yang berakal juga, mereka akan membagi waktunya kepada empat bagian : yang pertama waktu ketika dia menyibukkan dirinya dengan bermunajat kepada Allah. Jadi satu bagian daripada sa'ah yang dia utamakan adalah untuknya dan untuk Allah. setelah untuknya dan untuk Allah, yaitu bagaimana dia mengoreksi dirinya, tafakkur tentang dirinya. Jadi satu jam pertama itu bagaimana dia menyibukkan dirinya untuk bermunajat kepada Allah, komunikasinya jalan sama Allah. habis komunikasinya jalan, dia menyibukkan dirinya untuk mengoreksi dia kurang apa, yang dia lakukan selama ini apa, setelah itu bagaimana dia menjadikan waktu yang dia punya itu untuk mengunjungi teman, silaturahim, yang mana dia punya temen yang bisa mengingatkan kalau dia punya aib, lalu ketika diingatkan tentang aib dia mengislahkan aib itu. Kadang kita kalau udah mikir diri kita ga punya aib, "kayaknya hari ini aman deh", kalau seperti itu cari teman yang kalau kita ngelakuin kesalahan aib dia ngingetin, kita butuh temen seperti itu. Dan satu jam dimana dia bisa menikmati apa yang Allah berikan kepada dirinya, entah nikmat dunia, nikmat dunia kan banyak, tapi tidak membuat ia lupa dengan akhirat. Jadi satu jam dimana dia "oh allah kasih ana nikmat ini," dinikmati, sambil disyukuri bahwa itu menjadi bagian daripada cara Allah memberikan ketenangan untuk dirinya, atau ini cara Allah bagi ana kesenangan.
Jadi di dalam suhuf Nabi Ibrahim, dikatakan kalau kita orang yang berakal, bagaimana kita menjaga lisan untuk tidak menyakiti orang lain, perkara perkara yang baik, dikatakan bahwa sebaik baik perkataan adalah perkataan yang tidak menyakiti orang lain. Tapi kalau misalnya orang tersebut melakukan kesalahan, Sebaik-baik perkataan adalah mengingatkan mereka yang melakukan kesalahan dengan perkataan kita. Jadi ketika dia melakukan kesalahan apakah kita diam aja? tidak, kasih tau. Tapi kalau ga ada perkara yang buruk, dia ga ngelakuin kesalahan, kita ingetin diri kita supaya semua yang udah baik engga tiba-tiba menjadi ga baik gara-gara lisan kita yang ga bisa kita jaga. Makanya dituliskan, untuk mereka yang betul-betul berakal, untuk bisa menjaga lisan, dan keluar daripada kalamnya yakni kalam kalam yang baik, yang mengingatkan, yang menenangkan, yang menyadarkan bahwa semua orang punya kesalahan kalau dia melakukan kesalahan, atau kalai dia ga ngelakuin kesalahan kita yang jaga kita punya lisan.
Dan untuk orang yang berakal juga, bagaimana dia membagi waktunya menjadi empat bagian, untuknya dengan Allah, untuknya dengan dirinya bertafakkur, untuknya dengan dia datang kepada teman-temannya yang mengingatkan dia, dan untuknya dengan dia menikmati apa yang Allah berikan kepada dirinya.
Jadi untuk solat, iya. untuk diri kita sendiri, iya. untuk teman-temannya kita, boleh. Semisal ada teman di tempat kerja atau tempat kita belajar, kita berbaur, cari teman yang bisa mengingatkan kita punya aib. Tapi ketika mereka menyampaikan aib kita, jangan benci dia. Semisal saking sering teman kita mengingatkan aib kita banyak, jangan benci dia, berterimakasih harusnya sama dia karena telah mengingatkan aib kita. Semisal dia punya aib juga kita ingatkan, kalau dia ga terima gak masalah, karena setiap orang punya caranya sendiri untuk menyadari aibnya, dan bisa jadi cara Allah untuk menyadarkan dia bukan dari kita, tapi dari yang lain, tapi aib kita disadarkan lewat dia.
Dan satu jam ketika kita menikmati apa yang telah Allah berikan kepada kita. Ketika Allah memberi kita nikmat mata untuk melihat, kita melihat yang baik-baik di sekitar kita, yang bagus-bagus. Ketika Allah memberikan kepada kita waktu kosong, bagaimana kita menikmati waktu kosong tersebut, bukan cuma kosong plong, tapi kosong yang bisa betul-betul menjadi isi nanti di kitab yang akan dibuka di hari kiamat.
Dikatakan di dalam kitab Taurat, yang pertama, wahai anak Adam, jangan lemah atau malas-malasan ketika kita ingin mendekatkan diri kita kepada Allah dengan solat, biasanya ada masa kita agak males, dikatakan di sini jangan malas. di saat kita waktunya menyenangkan untuk berkomunikasi dengan Allah, kita tiba-tiba ngerasa malas, mengundurkan waktu, "nanti deh", jangan lakukan hal tersebut. Karena saat itu Allah sedang mendekatkan Allah kepada kita, dan kita menyadari itu tanpa kita sadari sebenarnya kita sedang melihat cahaya Allah. kalau kita tau waktunya masuk waktu solat, kita sambut dengan penuh cinta ga ada malas, atau cape, kita dengan sepenuh hati datang, sesungguhya saat itu Allah sedang mendekati kita secara ghaib dengan cara Allah dengan hal yang kita sendiri kadang tidak menyadari itu. Kata Allah, "ketika kalian menyambut-Ku, kalian sedang melihat cahayaku datang kepada kalian." tapi masalahnya kita sering malas kita sering merasa cape lalu mengundurkan hal yang sebenernya bisa kita nikmati. kalau misalnya waktu itu datang, "oh Allah ini, bismillah" dengan semangat kita akan merasakan hati yang tenang. makanya ada bedanya ketika kita solat di awal waktu karena semangatnya kita untuk komunikasi dengan Allah, dengan ketika waktu solat kita tunda bahkan sampai waktu solat selanjutnya, beda rasanya.
Ketika kita selesai solat kita tidak merasakan ketenangan, seakan-akan seperti tidak solat, maka perlu dipertanyakan. Apakah kita ngelakuinnya dengan malas? atau karena kewajiban aja? maka perlu dipertanyakan apa yang kita lakuin selama ini? kalau betul tujuannya adalah Allah, maka dari sebelum adzan udah mau deket waktu solat kita udah menyiapkan diri. karena kita ingin bertemu dengan tujuan kita hidup, dengan tujuan kita ada di dunia ini. Makanya kita semangat dari awal. Tapi kalau dari awal ga ada semangat, maka ketika selesai solat pun kita ga ngerasain beda apa apa, kayak sama aja. Maka perlu dipertanyakan, antara tujuan diri kita, bener ga?
Bahkan di beberapa kitab lain yang diturunkan, bahwa "Aku menciptakanmu untuk beribadah kepada-Ku." Maka jangan main main. Diingatkan lagi sama Allah, bahwa Allah ciptain kita untuk ibadah, untuk lebih dekat dengan Allah, jangan main main. Kita sering main, sebenernya ibadahnya bisa khusyuk tapi ga ngerasain apa apa, sebenarnya ibadah itu untuk nge cas diri, hati kita, tapi karena kita main, semuanya ga kita dapetin. Padahal kalau kita ga main-main, Allah pasti kasih rezeki yang baik baik buat kita. Pernah ga Allah cape ngasih rezeki kepada hamba-hamba-Nya? Ga pernah. Setiap hamba bahkan punya rezekinya masing-masing, ga ada rezeki yang tertukar, semua sesuai dengan porsinya, semua sesuai dengan apa yang Allah janjikan kepada dirinya. Apakah ada cape? engga ada. yang main kita, yang cape kita. Kata Allah ibadah doang kok, ibadah yang benar, jangan main, masalah rezeki udah disiapin sama Allah.
Kata Allah, "minta sama Aku." Ibadah, jangan main-main, nanti rezeki dikasih. Ketika engkau menginginkan sesuatu minta sama Allah. ketika engkau meminta kepada-Ku, engkau mendapatkan Aku. Maksudnya saking kita ingin meminta sama Allah semuanya kita lakuin, deketin Allah. "Ketika engkau berusaha mendapatkan Aku lalu engkau mendapatkan Aku, maka engkau akan mendapatkan apapun yang engkau mau. Tapi kalau engkau berpaling, menghindar, pergi, maka apapun yang engkau inginkan tak akan pernah engkau dapatkan. Padahal, Aku mencintai kalian lebih dari apapun." Dan hal yang harus kita ingat juga, Allah yang menjadikan apa yang kita inginkan itu terjadi, dan ketika kita taat kepada Allah, minta dengan betul-betul, "maka Aku akan menjadikan kepada kalian kalimat kun fayakun itu betul-betul terjadi."
Kalau kita lihat betul paragraf ini, ini adalah cara Allah mengingatkan kita untuk, "ayolah, mau sampai kapan jauh-jauh dari Aku? Mau sampai mainnya? mau sampai kapan mencari sesuatu yang kita tau itu bukan milik kita? mau sampai kapan mengharapkan sesuatu yang itu bukan rezekinya kita?" Saking kita fokus ke situ, kita sampe lupa bahwa ada Allah. Kata Allah "ente bisa minta sama Ane langsung, kok mengharapkan sesuatu yang lain? padahal ketika engkau merayu Ku Aku menerima semuanya, apapun yang kau minta, Aku kasih" tapi hal yang harus kita ingat adalah, hal yang Allah kasih dari aap yang kita minta, itu bukan seperti apa yang kita mau, tapi seperti apa yang kita butuh. kita mau tapi kita ga butuh, kata Allah itu bukan yang terbaik, maka mungkin tidak seprti yang kita harapkan, tapi seperti yang kita butuhkan, menurut Allah kita butuhnya seperti itu. Jadi cara Allah memberi apa yang kita minta itu sesuai dengan apa yang Allah lebih tau daripada kita yang kadang sok tau.
Makanya, dari paragraf taurat ini, ingat betul bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah, jangan main, mau sampai kapan main terus? mau sampai kapan kita datang kepada Allah saat butuh saja? di saat kita malas datang kita ga datang, padahal kita tau Allah menunggu kita, melihat kita, menunggu doa-doa kita. Dan ketika kita betul ingin mendekatkan diri kepada Allah, hal yang perlu kita yakini adalah kun fayakun-Nya Allah akan diberikan kepada orang-orang atau bahkan kita yang ingin betul-betul menjadikan Allah sebagai sandarannya kita. Jadikan Allah sebagai sandaran kita, entah di saat senang atau sedih, saat btuuh ataupun engga, utamakan Allah saja, sisanya nyusul.
Jadi PR nya kita adalah :
1. Doa yang insyaallah bisa kita istiqomahin pelan-pelan
2. Perbaiki hubungan dengan Allah, dengan Rasulullah, dengan Allah dan Rasulullah, dengan Allah, Rasulullah dan hamba-hamba Allah
3. Bagaimana kita mengutamakan waktu-waktunya kita untuk datang kepada Allah.
4. Menjaga lisan kita
5. Jangan malas, jangan tiba-tiba melemahkan diri ketika waktunya kita ketemu Allah.
Ingat bahwa kita diciptakan untuk beribadah, bukan untuk main, boleh bermain, tapi ibadah ga boleh dipermainkan. Sudahlah, waktunya kita untuk tidak mengecewakan Allah kesekian kalinya. Waktu ramadhan kemaren kan sibuk ngaji khatam tarawih, gimana caranya hal tersebut tidak hilang, karena ibadah bukan suatu hal yang dipermainkan.
•••
_Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan_
Halal share dan di mohon untuk tidak menghilangkan sumber catatan, BaraakAllah Fiikum.
Salam cinta 💙
𝓜𝓽. 𝓓𝓪𝓻𝓾𝔃𝓩𝓪𝓱𝓻𝓪
Komentar
Posting Komentar