Dars Risalah Muawwanah (23 Desember 2023)
Bersama: Ustadzah Dara Husaien
Waktu: 23 Desember 2023 (11 Jumadil Tsani 1445H)
Halaman: 181
=======================
Bismillahirrahmanirrahim..
Allahumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammad..
*DARS RISALAH MUAWWANAH*
*FASL HUBB*
Imam Haddad menyampaikan tentang hubb dalam kitab nya, dimana beliau berkata bahwa dalam hidup kita harus memiliki rasa cinta kepada Allah yang jauh lebih besar dibandingkan rasa cinta kepada yang lain (manusia). Boleh kita mencintai sesuatu, akan tetapi harus tetap sekedarnya saja dan jangan melebihi cinta kita kepada Allah. Jika misal ada pertanyaan “pernahkah kita jatuh cinta kepada sesuatu selain Allah? jika pernah, apakah cinta tersebut bisa dipastikan tidak melebihi cinta kita kepada Allah? atau pernah tidak kita jatuh cinta kepada Allah sejatuh-jatuhnya?”. Karena seperti yang dikatakan bahwa sebab adanya cinta adalah dari siapa yang kita cintai, yang pertama adalah ketika kita mendapatkan/menemui kesempurnaan kepada siapa yang kita cintai, atau ketika kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dari siapa yang kita cintai. Dan kalau kita pernah jatuh cinta selama ini, apakah kita pernah mendapatkan itu semua dari Allah? (Kesempurnaan Allah dan pemberian Allah yg kita mau). Jangan sampai kita mencintai makhluk karena sebab-sebab tadi sampai lupa bahwa itu semua datangnya dari Allah.
Imam Syafi'i pernah menyampaikan bahwa “Jangan pernah menegur orang yang jatuh cinta. Sebab mereka yang lagi merasakan jatuh cinta sedang dalam keadaan buta & tuli. Mereka hanya menemui keindahan & kesempurnaan dari yang di puja. Sampai ia lupa bahwa yang memberikan itu semua adalah Allah”. Nah kalau misalnya kita mencintai seseorang melebihi cinta kepada Allah, maka kita akan merasakan jauh dari Allah. Karena dikatakan dalam salah satu kalam nya Habib Ali Al-Jufry, bahwa “Cinta itu bukanlah suatu perasaan yang bisa datang dan pergi dengan mudah. Akan tetapi sebuah pilihan yang harus dipertahankan setiap saat”. Jadi ketika kita memilih untuk jatuh cinta kepada Allah, maka tugas kita adalah bagaimana pilihan tersebut kita pertahankan, bukan malah kita biarkan suatu perasaan tersebut untuk bisa datang dan pergi kapan saja. Makanya bisa diketahui bahwa cinta itu adalah perasaan yang bisa datang dan bukan perasaan yang bisa pergi begitu saja, melainkan harus dipertahankan setiap saat. Coba kita pikirkan atas semua yang sudah Allah berikan kepada kita, apa si hal-hal yang bikin kita ga bisa mempertahankan cinta kita kepada Allah? Padahal Allah kasih kepada kita suatu sebab dalam mencintai, dari mulai kesempurnaan yang ada sampai pemberian dari apa yang kita mau.
Dikatakan oleh Imam Haddad bahwa “Kesempurnaan dari apa yang kita cintai, maka sesungguhnya hanyalah Allah yang memiliki kesempurnaan tersebut. Dan Allah juga bisa memberikan apapun yang kita mau, kalau pun ga dikasih sesuai dengan yang kita mau, maka Allah ganti dengan yang jauh lebih baik”. Dan dikatakan oleh Imam Haddad lagi bahwa “Jika kita mencintai sesuatu karena kesempurnaan, maka kesempurnaan & keindahan hanya milik Allah. Dan tidak ada satupun yang bisa menyerupai apa yang Allah miliki”. Serta dikatakan lagi bahwa “Ketika kita mencintai karena kesempurnaan, keindahan dan kemuliaan, maka tidak ada yang bisa melebihi Allah atas itu semua. Akan tetapi, mengapa sulit bagi kita untuk jatuh cinta kepada Allah?”. Coba tanyakan pada hati kita, dimana selama ini Allah letakkan dalam hidup kita? Sesungguhnya apabila kita menyadari bahwa hanya Allah yang memiliki kesempurnaan, keindahan serta kemuliaan, maka sudah pasti Allah ada di hati kita. Makanya para orang-orang sholeh, seberat apapun takdir yang Allah berikan, mereka tetap bisa menerima dengan lapang dada (ikhlas) dan bisa terlewati gitu aja. Karena yang ada di hati mereka ketika datang nya suatu ujian hanyalah bentuk rasa sayang Allah & bentuk kedekatan Allah kepada dirinya.
Kenapa ketika Allah memberikan kita ujian malah merasa itu adalah sesuatu hal yang berat? Karena dalam diri kita (hati) terhalang & tertutup dari yang namanya kesadaran atas kesempurnaan, keindahan serta kemuliaan yang Allah punya. Kita lebih banyak memandang kesempurnaan & keindahan yang lain, daripada Allah. Kurang apa Allah selama ini? Sejauh apapun kita lari ketika Allah memberikan takdir untuk kita, sejauh apapun kita menghindar ketika Allah memberikan ujian & cobaan untuk kita, maka tetap saja ujungnya kita bakal balik ke Allah. Karena itulah sebaik-baiknya tempat untuk kembali, tetapi kenapa kita sadar ke Allah nya ketika pas ada masalah aja? Kenapa ketika kita sudah tenang, sudah menemukan jalan dan sudah diberi kemudahan oleh Allah, kita malah menghilang? Jadi kuncinya adalah hanya ada pada hati kita & diri kita sendiri. Coba tanyakan kepada diri sendiri sudah seberapa jauh dengan Allah? Coba tanyakan pada diri sendiri yang kata nya dekat dengan Allah, yang kata nya cinta dengan Allah, yang kata nya merasakan kesempurnaan Allah selama ini, dan yang kata nya sudah bisa menghadirkan Allah di setiap waktu, apakah benar? Apakah kita sudah bisa menerima atas apa yang Allah berikan? Jika sudah maka pertahankan dan jangan membiarkan pergi begitu saja.
Dalam kalam lain yang Habib Ali Al-Jufry katakan bahwa “Setiap siapapun yang ada di hati kita, berarti itu milik kita. Maka pertimbangkan siapa yang kita ridhoi untuk diletakkan dalam diri kita”. Nah ketika Allah ada dalam diri kita, maka Allah milik kita. Berarti tugas kita adalah bagaimana mempertahankan hal tersebut. Diingatkan bahwasannya dalam kalam milik Syekh Jalaludin Rumi yang berbunyi di salah satu syair nya adalah bahwa “Siapapun yang mencintai kita, maka akan memahami atas segala kerumitan yang ada dalam diri kita meskipun kita belum mengungkapkan/mengatakan nya sama sekali”. Dan hanya Allah lah yang dapat memahami segala kerumitan yang ada pada diri kita tanpa harus kita katakan dan ungkapkan. Allah adalah sebagian hal yang paling utama untuk diletakkan dalam diri kita. Mau sejauh mana lagi kita jauh dari-Nya? Udah cukup, jangan biarkan Allah hilang dari dalam diri kita. Pertahankan sampai kita merasakan cahaya keindahan yg Allah berikan kepada kita. Karena ketika Allah sudah memberikan keindahan cahaya itu, maka sesulit & semenyakitkan apapun tetap baik-baik saja dan terasa mudah, sebab kita sudah memegang kunci utamanya, yaitu Allah.
Jatuh cinta yang ketika kita jatuh, sesakit apapun rasanya & tetap merasakan kenikmatan hanyalah ketika kita jatuh cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad ๏ทบ. Gapapa sekarang sakit, tapi nanti ketika sudah waktunya kita bertemu Allah, semua akan terasa tenang & baik-baik saja. Oleh karena itu, tugas kita saat ini adalah menambahkan rasa cinta kepada Allah, dan juga mempertahankan cinta tersebut. Ketika seseorang sudah mulai mencintai Allah, jalannya memang akan terasa sulit & semakin berusaha untuk istiqamah maka akan semakin banyak ujian dan rintangannya. Tapi ketika kita memutuskan untuk menyerah, disaat nanti ingin kembali berarti harus mengulang dari awal, itupun kalau masih ada kesempatan hidup. Mulai dari sekarang belajarlah untuk mencintai Allah melebihi dari kita mencintai apapun yang ada di dunia. Dan Imam Haddad berkata “Kalau misalnya kamu mencintai sesuatu atas segala pemberian yang diberikan, apakah kamu tidak melihat kebaikan dan kedermawanan nya Allah kepada mu atas nikmat-nikmat yang ada? Padahal Allah memberikan lebih dari apa yang kita mau, dan yang bisa memberikan dengan sebaik-baik pemberian atas semua yang diberikan kepadamu hanyalah Allah!”.
Selanjutnya adalagi yang dikatakan oleh Imam Haddad, “Lalu berapa banyak kenikmatan yang sudah Allah berikan untukmu?!”. Coba diingat, apabila kita mencintai seseorang karena ia selalu memberikan apa yang kita mau, maka pasti akan ada rasa sayang dan cinta padanya. Nah sedangkan Allah sudah jauh lebih memberikan apa yang kita mau, jadi jatuh cinta paling afdhol hanyalah kepada Allah. Semua nikmat yang kita dapat dari orang lain, sesungguhnya itu semua dari Allah & mereka hanyalah perantara saja. Jadi diingatkan kembali oleh Imam Haddad bahwa kita harus selalu mengingat semua kebaikan yang kita punya selama ini, apakah ada yang lebih baik dari Allah atas segala kebaikan yang ada? Tidak ada. Perlu diingat juga bahwa Allah yang menghidupkan kita, dan Allah pula yang mematikan kita. Tetapi kita sering lupa untuk mempersiapkan bekal kematian, kita seringkali terlena dengan kehidupan dunia. Semua yang kita miliki saat ini adalah atas pemberian dari Allah, dan Allah selalu menutupi segala kejelekan diri kita. Allah tidak pernah membongkar aib kita, coba bayangin seberapa banyak aib kita yg Allah tutup. Coba jika kejelekan aib kita diketahui oleh orang lain? Sudah pasti tidak akan ada yg mau mendekat kepada diri kita. Jika kita melakukan kesalahan sekali dua kali mungkin manusia bisa memaklumi, tapi jika lebih dari itu mereka akan menjauh. Sedangkan Allah? Allah tau seluruh kejelekan dalam diri kita, tetapi Allah tidak pernah membongkar nya dan tidak pernah menjauhi kita, Allah maha pengampun atas segala kejelekan & kesalahan kita.
Allah tidak pernah membongkar aib dan kejelekan kita, justru Allah membongkar segala kebaikan yg kita miliki meski sedikit. Kemudian ketika kita berbuat kebaikan, meski sudah banyak melakukan dosa, Allah tetap menerima. Tetapi sebaliknya jika kita banyak melakukan kebaikan dan melakukan satu kesalahan saja dihadapan manusia, maka mereka akan menjauh dan melupakan segala kebaikan yg pernah kita miliki/lakukan. Apakah kita sudah selalu menyebut nama Allah setiap hari? Jika belum, maka setidaknya sering-seringlah tafakur tentang diri sendiri, supaya kita dapat menyadari bahwa diri kita masih banyak kurangnya. Bahkan dituliskan dalam kitab nya Imam Haddad, dikatakan bahwa “Ketika seorang hamba taat kepada Allah, maka Allah akan memberikan nya sebuah taufik & pertolongan nya, serta Allah berikan dia tempat untuk nama nya di sebaik-baik tempat yg agung & Allah jadikan dengan hati nya takzim penuh cinta. Bahkan ketika dia melakukan ketaatan, maka Allah hapuskan segala dosa nya dan digantikan menjadi kenikmatan. Lalu kok bisa kita tidak mencintai sepenuh hati kepada Allah? Kok bisa kita melakukan kemaksiatan kepada yang maha pengasih? Kok bisa kita tidak mencintai Allah? Kok bisa kita tidak ada rasa malu kepada Allah ketika sedang bermaksiat?”. Kita sesekali bercermin melihat diri sendiri yang masih banyak kekurangan, agar tidak timbul kesombongan dalam diri. Mau sampai kapan kita lalai? Mau sampai kapan kita merasakan nikmat, padahal kita jauh dari Allah?
Habib Ali bin Zainal Abidin Al-Hamid pernah berkata, jika sesuatu yg kita cari itu besar, maka pengorbanannya juga sesuatu yg besar. Jadi kalau kita pgn betul-betul mencintai Allah, maka butuh banyak pengorbanan yg besar. Jangan berhenti kejar cinta Allah, karena mengejar cinta Allah sdh pasti akan terbalaskan dengan sesuatu yg besar pula. Setiap pengorbanan besar sudah pasti semakin besar juga ujiannya, tetapi semakin besar ujiannya dan semakin bertahan juga bersabar, maka semakin erat Allah genggam kita. Tetapi apabila kita berkorban untuk mencintai makhluk, maka yg dirasa hanya rasa sakit. Coba kita ngaca ketika berkata "aku cinta pada Allah", apakah yakin? Coba liat diri sendiri yg terkadang masih banyak menuruti nafsu, masih jalan maksiat nya, masih lalai perintahnya, apakah benar itu yg dinamakan cinta? Tidak. Kemudian kata Imam Haddad, yakinkan hati kita untuk mencintai Allah, jangan mendua kemana-mana. Jangan sampai hati kita keras, kotor, dan jauh dari Allah, kembalilah sama Allah, karena sebaik-baiknya kembali hanyalah kepada Allah. Kuatkan dan kokoh kan cinta kepada Allah dengan melalui Nabi Muhammad ๏ทบ. Pikirkan lagi, nikmat Allah mana yg kurang untuk kita? Allah dah kasih banyak kita kesempatan untuk hidup & memperbaiki diri, Allah masih izinkan untuk melakukan segala aktivitas dengan keadaan sehat, dan sebagainya. Terus kurang apalagi Allah di hidup kita? Jangan hanya karena ada 1 ujian yg Allah berikan, terus kita menjadi lupa akan segala nikmat yg sdh Allah beri. Tidak ada yg bisa menyayangi kita melebihi rasa sayang Allah kepada diri kita sendiri. Bahkan dalam kitab Akhlak Lil Banat dituliskan “Bahkan sebesar apapun kasih sayang seorang ibu, tidak akan pernah bisa melebihi kasih sayang Allah kepada kita. Sebesar apapun dosa yg kita lakukan, Allah masih tetap menyebutkan kita sebagai Hamba nya di dalam Al-Qur'an ”. Kita masih disebut, masih diakui, masih dianggap, meskipun dosa kita sdh sangat banyak. Allah akan tetap mengampuni dosa-dosa Hamba nya selagi Hamba nya mau bertaubat.
๐ *QnA*
1. Bolehkah kita mendambakan cobaan kepada Allah? Karena biasanya ketika Allah berikan cobaan, kita akan semakin dekat. Akan tetapi jika Allah berikan kebahagiaan, kita jadi lalai dan lupa sama Allah. Bagaimana Ustadzah?
» Jadi ada salah satu Salafunassholeh, kalau tidak salah namanya Habib Abdullah bin Hasan Thahir. Beliau merupakan salah satu Salafunassholeh yg merindukan ujian dari Allah. Beliau senang apabila diberikan ujian oleh Allah, karena beliau merasa dari ujian tersebut membuat dirinya semakin dekat pada Allah. Apabila ujian nya berakhir, beliau sangat sedih, sampai-sampai beliau mendatangi orang yg masih banyak ujian untuk meminta agar dipindahkan kepada dirinya saja. Jadi jika ditanya boleh atau tidak nya mendambakan suatu ujian dari Allah, maka jawabannya boleh. Asalkan dengan ujian itu dapat membuat kita semakin dekat dengan Allah & bukan semakin jauh, serta benar-benar mengingat Allah. Terkadang kita sebagai hamba kurang peka atas sinyal/radar cinta dari Allah.
2. Terkadang disaat kita sedang bahagia suka lalai sama Allah. Jika sedang ada ujian baru ingat sama Allah. Tetapi pada saat sdh menghadap Allah suka bingung apa yg mau di ungkapkan. Apakah itu sombong atau bagaimana?
» Kadang saking udh ga tau nya mau bicara apalagi akhirnya buntu (bingung mau bilang apa ke Allah). Dan ini pernah disampaikan dalam kitab nya Imam Haddad yg lain, dimana isinya kurang lebih gini “Allah mempunyai sifat yg maha mendengar & maha melihat”. Jadi bahkan ketika kita tidak bisa menyampaikan apapun, Allah akan tetap mengerti. Allah bisa mengerti bahasa kita, yg mungkin kita sendiri ga paham dan ga ngerti.
๐️ *Sekian kurang lebihnya mohon maaf apabila ada salah kata dalam penulisan, pengetikan, maupun penyampaian. Wallahu 'alam bishawab, semoga bermanfaat ๐คฒ๐ป*
Salam Cinta ๐
๐๐ฝ. ๐๐ช๐ป๐พ๐๐ฉ๐ช๐ฑ๐ป๐ช
Komentar
Posting Komentar