Dars Risalah Muawwanah (20 Januari 2024)

 ﺑِﺴْــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَٰﻦِ الرَّحِيْمِ 

اللهم صل علی سيدنا محمد وعلی ال سيدنا محمد


✨ Dars Risalatul Muawwanah

💌 Fasl : Ridho bagian 2 ( Halaman 186 ) 

🎙 Ustadzah Dara Husaien

🗓 20 Januari 2024


•••


Disampaikan oleh Imam Haddad di sini ada dua hal untuk hati kita ridho atas apapun yang Allah berikan kepada kita, karena semua yang terjadi di dalam hidup kita menjadi bagian dari takdir yang Allah berikan kepada kita, dan itu sesuai dengan kadar atau sesuai dengan hal yang menurut Allah sudah sesuai dengan kita. 


1) ridho atas kesehatan dan kekayaan

Biasanya kita ketika dikasih Allah sehat, dikasih Allah kaya, saking sehatnya kadang kita lupa menjaga dirinya kita, kita lupa jaga kesehatan kita, kita lupa menyadari bahwa kesehatan yang Allah berikan bisa nanti Allah ambil. ketika kita sehat semuanya kita lakuin, ketika kita sehat kita lupa bahwa kadang diri kita butuh untuk diistirahatkan. hal seperti ini bukan berarti ketika kita misalnya sibuk ibadah terus, tapi ada saatnya kita istirahatkan kita punya badan. karena sehat yang Allah berikan kepada kita itu juga bagian dari titipan. ketika kita lihat dengan kesehatan yang Allah berikan, tugas kita bukan hanya mengambil kesempatan untuk sebaik-baiknya ketika kita ibadah sampai lupa istirahat, ada kalanya kita istirahatkan tubuh kita supaya sehatnya kita itu benar-benar menghasilkan manfaat bukan mudhorat. 


Kalau istirhat nanti bisa jadi ibadah, kan ada tidur orang soleh yang dihukumi ibadah, kite tidur dengan niat yang banyak, niat untuk dimudahkan ibadah setelahnya, ibadah dengan lancar, sehat. Jadi ketika Allah memberikan kesehatan kepada kita, bagaimana caranya kesehatan itu kita jaga sebaik-baiknya. 


Dan kekayaan pun seperti itu, ketika Allah menitipkan kepada kita harta, bagaimana kita jadikan kekayaan yang kita punya ga bikin lupa sama Allah dan bikin kita semakin jauh dari Allah, melainkan bagaimana caranya semakin dekat. Seperti sedekah kepada fakir, miskin, yatim, piatu, yatim piatu, orang yang membutuhkan, janda, supaya Allah beri kekayaan kepada kita dan keluar dari kita yg berkah dan banyak. 


Kadang ga ada rasa takut dalam diri kita, tapi ketika ada orang yang lebih dari diri kita, rasa tidak terima kita kepada Allah, misal "kok dia lebih sehat padahal dia ga jaga kesehatan", atau yang lebih kaya, "ana kerja dari pagi sampe sore sampe lembur tapi harta ana ga sebanyak dia". 


Jadi kan Imam Haddad mengajari kita untuk ridho pada kesehatan yang Allah berikan seperti apapun dan kekayaan seberapapun. 


Sehat, kaya, punya Allah. Ketika Allah titipkan kesehatan dan kekayaan sampai situ berarti Allah tau kita mampunya segitu. Misalnya Allah beri kita sehat lebih dari yg lain, kita ga jaga kesehatan, makanya dikasih segini aja sama Allah. Keridhoan kita akan hilang jika kita ngeliat ada yang lebih afdhol dari kita. 


Lihat, jika ada yang diatas maka ada yang dibawah. Lihat mereka yang ada di bawah kita supaya kita menyadari Allah punya takdir atas setiap hamba hamba-Nya. Tugas kita adalah ridho. Ridho itu susah, tapi ga susah ketika kita melibatkan Allah di dalamnya. Serahin semuanya kepada Allah. Ketika hati kita udah komplain sama kekayaan atau kesehatan yang kita punya, yakinkan akan selalu ada orang di bawah kita. Ingatlah, setiap ada orang yang di atas maka pasti ada juga yang dibawah. 


Kalau misalnya kita sudah memilih untuk ridho atas segala takdir, kekayaan dan kesehatan, maka secara perlahan dengan keridhoan tadi Allah akan membenarkan, mengembalikan dengan cara Allah sendiri sehingga yang menurut kita suatu kekurangan akan menjadi kesempurnaan dalam hidup kita kalau kita ridho. 


2) ridho terhadap musibah dan penyakit


Kata Imam Haddad, kita harus ridho terhadap musibah atau penyakit atau apapun yg Allah turunkan atas kita. Karena sesungguhnya ketika kita ridho atas musibah, penyakit, bala' yang Allah turunkan, maka kita sedang menyempurnakan apa yg Allah titipkan untuk kita. Tapi kalau seandainya sulit menerima keridhoan dalam hati kita atas semua itu, maka bersabarlah. 


Seperti yang diajarkan Nabi SAW, "sembahlah Allah dengan ridho, kalau tidak bisa dengan sabar atas sesuatu yang kita tidak suka, maka itu adalah sebaik-baik hal yang sudah kita lakukan"


Jadi tugas kita, ridho. kenapa ridho, ikhlas, sabar itu adalah hal hal yg ga bisa dipisahkan? karena jika kita sulit ridho atas semua itu, jadikan hati kita sabar. sabarkan dulu, ketika kita sudah sabar maka ridho tadi akan cepat datang ke kita. 


Ketika Allah menurunkan semua itu apakah Allah membenci kita? Tidak. bisa jadi Allah rindu, Allah kangen mendengar suara hambanya yang cantik satu ini. Bagaimana kita memohon, muka yg kalau dilihat orang akan ditertawakan tapi sama Allah justru akan dipamerkan ke penduduk langit bahwa wajah itulah yang terlihat cantik. 


Ketika Allah turunkan musibah, penyakit, bala' itu, dan bergumam "kenapa rasa sakit ini begitu besar ya Allah? sedangkan hamba-Mu ini ga sanggup." Kalau ga sanggup ga bakal dikasih Allah kok. Ingat, semakin sakit yang Allah berikan, semakin banyak musibah dan bala' yg Allah berikan, maka semakin banyak juga dosa yang harus kita bersihkan dari diri kita. Padahal sakit itu ga ada secuil dari kuku kita. Kita ga mau banyak-banyak sakitnya, tapi maksiat kita gada henti-hentinya. 


Maka salah satu cara menghadirkan keridhoan dalam hati kita ketika musibah, penyakit, bala' itu Allah turunkan kepada kita, lalu ada keinginan untuk mengeluh, katakan "wahai hatiku, ketika ada hal yang menurutmu berat, coba lihat dosamu sebesar apa sehingga Allah kasih ini. Karena Allah ga akan kasih semua yang berat ini kalau dosanya ga seberat dari diri kita yang mau disucikan dari dosa itu."


Maka beribadahlah kepada Allah dengan keridhoan, kalau susah, sabar aja terus. Sabar itu kan gada ujungnya. Ridho juga ga ada ujungnya. Kalau kita betul yakin sama Allah dan Rasulullah Saw, gimanapun takdirnya, kesehatan kita, kekayaan kita, entah musibah yang diberikan seperti apa, kita akan ridho. karena kan setiap orang punya ujiannya masing-masing. Kalau kita ridho atas apapun yang diberikan, kita terima, kita percaya bahawa setiap hal yang diberikan, ketika hamba-Nya ridho maka Allah ga akan meninggalkan, Allah akan bimbing hamba-Nya sampai akhir. Jadi jadikan hati kita semakin ridho setelah ini. 


Kata Imam Haddad, kalau semisalnya kita udah ridho atas dua hal di atas, ada mereka yang ga ridho atas dua hal tersebut, mereka disebut org yang merasa tenang dalam meninggalkan ketaatan terhadap Allah, mereka melakukan kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan, mereka taubat tapi bukan taubat yg menyadari mereka benar-benar pendosa, hanya taubat yang diucapkan saja, ga ada yang dilakukan, justru semakin banyak maksiat yg dikerjakan, untuk hal seperti ini mereka adah orang yg sengaja menjauhkan dirinya dari Allah. 


Krn kata Imam Haddad, bagaimana seseorang mengatakan Allah meridhoi dia sedangkan dia melakukan sesuatu ynag Allah ga ridho?. Kita katakan Allah meridhoi kita, tapi maksiat kita jalan terus. Kita katakan saking Allah ridho sama kita, semua yg kita minta diijabah, belum tentu. Ketika doa kita diijabah, kalau ada maksiat yg kita kerjakan, masih sempurna kita kerjakan maksiat, berarti bisa jadi semua doa yang Allah ijabah adalah bentuk laknat Allah kepada kita, na'udzubillahimindzalik. 


إن تكفروا فإن الله غني عنكم ولا يرضى لعباده الكفر وإن تشكروا يرضه لكم


"Jika kamu kufur, sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu. Dia pun tidak meridai kekufuran hamba-hamba-Nya" 


(QS. az-Zumar ayat 7) 


Di katakan dalam ayat ini bahwa orang orang yang kufur adalah orang orang yang Allah tidak membutuhkan iman mereka dan Allah tidak meridhoi kekufuran mereka. Kita beriman tapi maksiat kita jalan terus, kira kira selama kita menumpuk dosa dengan sengaja ini takutnya yang awalnya ada kesempatan mendapatkan keridhoan dari Allah, keridhoan itu hilang karena semkin banyak dosa yang semakin mudah untuk kita melakukannya. 


Perlu kita ketahui bahwa ridho atas nafsu dan ridho atas Allah tidak akan pernah bersatu. Kalau kita mau mengharapkan ridho Allah, maka kita harus mendidik kita punya nafsu. Tapi kalau kita mengikuti nafsunya kita, maka siap siap jauh dari ridho Allah. Karena dua hal tersebut tidak akan bersatu di satu tempat yang sama. 


bagian daripada keridhoan Allah adalah hal yang paling kita cari dalam hidup, dengan ridho kita ikhlas, kita bersyukur, kita bersabar, kita menjauh dari sesuatu hal yang menurut Allah ga baik, karena kita mengharapkan keridhoan Allah juga. 


Jadi PR ridho ini benar-benar berat. semakin susah tapi semakin itu membuat kita dekat dgn Allah maka kerjakan. Karena dengan kita kerjakan semakin dekat kita dengan allah. 


Imam Ghazali berkata kepada Abu Al-Fath Al-Dimashqi radhiyallahu 'anhu, ridho adalah bagaimana kita ridho terhadap ketentuan Allah secara batin. Menerima segala sesuatu yang Allah berikan. Dikatakan juga, bagaimana cara mengetahui kadar ridho seseorang atas takdir yg diberikan, maka perhatikanlah dia ketika dia tertimpa musibah. Ketika dia dikasih musibah, penyakit, kemiskinan, kita lihat bagaimana hal yang dia lakukan. Kalau dia sabar, menerima syukur, maka disana kita mendapatkan apa yang dimaksudkan dengan ridho itu. 


Jadi kalau kita pengen liat keridhoan kita, kita bisa liat ketika Allah kasih musibah, penyakit, bala' itu. Kalau misalkan kita terima, ikhlas, dan menyadari itu dari Allah maka kita ga akan protes. Tapi kalau ada protes, berarti keridhoan dalam hati kita perlu diperbaiki, perlu dikembalikan kepada Allah. tapi ketika dia ridho, misalnya ridho atas penyakitnya maka pasti allah akan bagi kesembuhan bagi yang percaya.


Nabi Ayyub as juga mengajarkan kepada kita saat ditimpa penyakit, apakah ga akan sembuh? sembuh, bahkan Allah kasih double. Tapi ketika beliau ridho. Semakin ga mampu mkaa semakin yakinkan, apapun yang terjadi, ridho. Butuh waktu? Pasti. Tapi apakah ga akan ada ujungnya? Ada ujungnya.


"kok ana ya Allah, ana ga sanggup" Boleh nanya gitu ke Allah, tapi lihat ketika ada seseorang yang meminta kepada kita, kita kasih dulu, dia minta lima kita kasih satu, karena kita tau kalau org ini kita kasih lima gabakal cukup untuk seterusnya, maka dikasih dulu satu satu, tapi dia ga terima, padahal dia ga tau niat kita. Kita kembalikan ke Allah, ketika kita mengetahui Allah yg mengatur takdir, kita terima. 


Kadang kita yang tidak mau berusaha lebih besar, enggan bersabar lebih banyak, kita takut jika semakin ridho semakin banyak juga ujian yang turun. Mumpung masih di bulan Rajab, latih diri kita. 


Dulu pernah ditanya, yang melakukan kemaksiatan dan melakukan ketaatan kenapa melakukan hal yang seperti itu? meninggalkan ketaatan dan melakukan keharaman, mereka menjawab tindakan kamu ini adalah hal yang sudah ditakdirkan oleh Allah (maksudnya tidak beriman) 


Jadi jika di zaman sekarag ada yang bertanya seperti itu, orang seperti ini akan menjawab semua hal yg terjadi ini adalah suatu hal yang sudah Allah takdirkan atas kita, karena ini adalah takdir dan kita juga ga sanggup mau ngapain, jadi kita lakuin aja kyk gitu bentuknya. 


Orang orang seperti ini adalah jawaban dari kaum jabariyah. Mereka seperti ga punya alasan, semua melibatkan takdir allah. Padahal sebenarnya kita bisa meninggalkan itu. Allah menciptakan taat dan haram bukan untuk kita melakukan perkara yg garam, tapi untuk mengingatkan kita bahwa yang melakukan taat akan dituntun ke surga, dan yang memilih keharoman akan menuju ke neraka. 


Bukan Allah lepas tangan dari hamba-Nya, tapi bagaimana Allah mengajarkan kepada kita, "wahai hamba-Ku, Aku melihat yg kau lakukan, mau taat atau haram? Kalau mau taat tafaddhol, kalau mau haram lebih dekat dengan laknat." Kadang ktia ga sadar melakukan itu, kita mengira itu takdir Allah padahal ketika kita ingin melakukan hal yang haram semua anggota tubuh kita berbisik untuk kita tidak melakukan hal tersebut. Ketika tangan kita ada keberatan melakukan hal tersebut, seperti ringan melakukan maksiat, itu karena nafsu kita lebih besar daripada iman kita. 


Takdir yg Allah berikan adalah memberikan takdir ketaatan atau keharaman. Kalau kita memilih taat itu jalan takdir dan kalau kita pilih keharaman juga takdir Allah. Pilhan ada di kita, pilih taat terus atau pilih menjauh? 


Allah memberikan dua pilihan dan Allah memberikan kepada seluruh anggota badan untuk mengingatkan diri kita untuk tidak melakukan hal tersebut. Tapi nafsu yang besar tadi sehingga kita melakukan maksiat yang menjauhkan kita dari Allah. Kalau yang seperti ini kita mau ridho atas takdir, salah. Ridhonya kita bukan untuk hal yang seperti ini. 


Ridho di sini adalah ketika kita melakukan haram maka kita siap untuk mendapatkan pencucian dari Allah dengan diturunkan azab atau musibah. 


Jadi kalau berharap kita bakalan selamat-selamat aja dari musibah, penyakit, kita salah. Ketika seseorang memilih maksiat dari taat maka dia harus siap untuk menerima pencucian dari keharaman tersebut. 


Dikatakan di akhirat nanti kaum musyrikin ga bisa melakukan hal seperti itu tadi (berkata ini kan bagian dari takdir Allah). Ga bisa. Ketika kembali ke Allah, mau seperti apapun alasannya dia ga bisa berdalih apapun. Karena Allah sudah memberikan dua pilihan kepada hamba-Nya dan ketika hamba-Nya ingin melakukan kemaksiatan, seluruh tubuhnya sudah mengingatkan karena nafsu yang besar dan bisikan setan. 


Jadi kata Imam Haddad, ridho ini adalah ketika seorang hamba yang berusaha menerima takdir yang Allah berikan. Tapi ketika takdir tersebut menjerumuskan kepada hal yang ga baik, kita tidak menyebutnya sebagai takdir juga. hal-hal yang berupa dosa sebernarnya bisa untuk kita tidak lakukan asalkan kita ingat itu adalah bagian daripada nafsu. Atau ketika kita sadar atau tidak telah melakukannya, kembali kepada Allah, ingat kepada hari akhir kehidupan kita, itu akan menjadikan ktia ridho atas takdir yang sebenarnya. 


Jadi ketika sudah pernah melakukan dosa dan maksiat, gpp datang lagi ke Allah, jadikan hal yang sebelumnya pelajaran yang begitu besar dalam hidupnya kita. Dan ketika datang ke Allah siaplah menerima pencucian, kebersihan dengan musibah, ujian, bala' yg gada habis habisnya. sebesar apapun musibah itu sesuai dengan dosa- dosa yang kita buat. 


Sebelum nafsu kita semakin besar, ajarkan hati kita untuk selalu ridho. ajarkan diri kita untuk selalu kembali kepada Allah. 


QNA :


1. Di Hadist Nabi, sudah diberikan catatan nama-nama umat yang masuk surga dan neraka, tidak ditambah dan tidak dikurangi. Jadi apakah masuk surga dan neraka tidak bisa diubah dan kita hanya menjalankan apa yang ditakdirkan? 

=> kita tahu bahwa di dalam hadis Arba'in setiap hamba itu sudah mengetahui takdirnya seperti apa dari awal kita di dalam perut terus kita keluar pertama kali di perut ibu. setiap detik, menit yang terjadi sampai akhir hayat itu sudah dituliskan takdirnya seperti apa oleh Allah, dan ketika ada yang memilih takdir tersebut, kita sudah tanda tangan, maka kita sudah menyetujui apapun takdirnya. 


catatan nama-nama umat Nabi Muhammad kalau kita kembali ke suyuh yang terkenal dengan kealimannya, jamaahnya banyak, tapi suatu hari ada seseorang murid yang juga orang alim dan si murid ini bisa melihat di setiap kening orang itu tulisan masuk surga atau neraka. jadi ketika si murid hadir di dalam sebuah majelis gurunya, si murid sempat kaget melihat kening daripada si guru tulisannya adalah orang-orang yang akan dimasukkan ke dalam neraka Allah. Setelah melihat hal tersebut murid ini jadi nggak pernah masuk, nggak pernah ikut majelis lagi, sampai akhirnya dia dicari oleh gurunya. Gurunya datang dan beliau sampaikan apa yang beliau lihat, dan ketika mendengar itu ada rasa tersentak tapi hal itu tidak membuat gurunya marah. kata si murid tersebut "Bagaimana mungkin aku menuntut ilmu di suatu tempat yang sudah dituliskan bahwa pengajarnya pun akan dimasukkan ke dalam neraka" akhirnya pergi murid ini dan guru ini berpikir juga sampai akhirnya beberapa bulan kembali datang lagi si murid karena rindu majelis gurunya, dan ketika hadir di kening guru tadi sudah berubah yang awalnya dituliskan bahwa akan dimasukkan ke dalam neraka Allah berganti akan dimasukkan ke dalam Ahli Surga. 


maka apakah sebenarnya Surga Neraka itu adalah sudah takdir yang bisa diubah? yang tau kita akan masuk ke dalam surga dan neraka hanya Allah, tapi tugas kita adalah menjalani apa yang ditakdirkan dan pastinya berusaha untuk masuk ke dalam surga-Nya Allah tanpa harus lewat neraka dulu. karena orang yang beriman pasti akan dimasukkan ke dalam surga, tapi tidak sedikit orang yang beriman akan mampir dulu ke dalam neraka untuk dibersihkan. 


jadi ketika kita pengen masuk surga tanpa dicuci maka berdoa yang banyak kepada Allah untuk dimasukkan ke dalam surga tanpa harus dibersihkan dulu di neraka, dan bagaimana kita berusaha untuk selalu menjalankan sebaik-baik takdir. tugas kita adalah bagaimana memperbaiki diri setiap hari, setiap waktu dalam hidupnya kita. jadi kalau misalnya surga dan neraka adalah takdir yang tidak bisa diubah bisa jadi bisa diubah dengan syafaat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, siapa yang tau? dan apakah kita hanya menjalani apa yang ditakdirkan? kita pasti akan menjalani apa yang ditakdirkan, tapi kita berusaha untuk menjadi hamba yang selalu dekat mendekatkan diri kepada Allah, berdoa kepada Allah sampai akhir dan itu juga tugas kita. 


2) ketika kita Ridho dengan segala yang Allah kasih kepada kita dalam keadaan apapun termasuk ketika sedang semangat semangatnya dalam ketaatan, namun ketika sedang dalam keadaan keimanan yang menurun terkadang kita sadar akan hal itu kemudian dalam hati merasa berontak dengan diri sendiri dan kadang berkeluh dalam hati, "Kenapa dengan diri ini? kenapa semangat untuk menjalankan ketaatan menurun dan terasa berat? " meskipun kita terus berusaha untuk kembali memupuk keimanan kita dalam ketaatan, namun masih naik turun. Apakah itu termasuk kita mengeluh dan tidak ridho kepada Allah dengan yang sedang kita jalani dan bagaimana untuk memulihkan kembali atau menaikkan kembali iman agar melakukan ketaatan? 

=> ada masa di mana iman kita lagi naik naik dan turun. semua yang Allah takdirkan kita terima. Ada saatnya kita semangat, tapi ada saatnya Allah jadikan semangatnya kita turun. yang dimaksud dengan tidak ridho itu adalah bukan dengan kita nanya "Ya Allah kenapa kok ana enggak kayak dulu" itu kita nanya sama Allah, kita lagi menghadirkan semangat lagi sebenarnya. makanya ketika iman kita lagi turun dan kita menyadarinya dan ada berontak di dalam hatinya kita, ketika kita sadar bahwa iman kita lagi turun dan semangat kita ga seperti yang dulu, maka datanglah, tanya sama Allah, kita bukan mengeluh tapi kita sedang mengadu. kita sedang mengadu atas kurangnya kita, dosa kita. bukan kita nggak percaya takdir Allah, tapi kita butuh bantuan Allah. 


Jadi datanglah kepada Allah, kita serahkan diri kita, dan kita tau diri kita adalah milik Allah. Allah tau batin kita sehingga dilihat iman kita yang sedang turun. Mungkin banyak salah dalam diri kita saat iman kita lagi naik, entah misalnya saat iman lagi naik kita ada sedikit riya', atau ada sedikit sombong di dalam dirinya kita, mungkin dari hal-hal seperti itu atau ada juga yang tidak sengaja misalnya terlontar dari kalimat dari dalam dirinya kita yang justru membuat kita jauh dari Allah. 


Jadi datang ke Allah, mengadu dan katakan kita butuh bantuan Allah. karena semangatnya ketaatan dari dalam diri kita itu bukan datang dari diri kita tapi atas bantuan dari Allah. Bilang, "ya Allah hamba bukannya ngeluh atas apa yang Engkau berikan, tapi ngeluh atas diri ini yang banyak dosa, yang banyak khilaf, yang banyak salah, yang membuat hamba bukan semakin semangat malah semakin menjauh" 


perbanyak komunikasi dengan Allah, minta tolong, karena kita tidak akan pernah bisa mendapatkan kenikmatan atau istiqomah dalam taatnya kita hika kita tidak melibatkan Allah di dalamnya. 


dan bagaimana caranya supaya semangat itu kembali? datang lagi kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, minta tolong sama Allah. 


3. Di tempat kerja ini seperti sudah tidak kondusif, beban kerja yang rasanya tidak mampu ditumpahin semua ke ana, bos yang Toxic, sering bicara kasar, menyakitkan. kepala sama hati terasa sesak mikirinnya seperti sudah tidak nyaman bekerja di tempat ini, sudah kepikiran buat resign tapi takut buat orang tua kecewa, tapi hati sama kepala sudah tidak bisa ditahan di tempat kerja ini. Bagaimana baiknya? 

=> pertama solat istikharah, solat istikharah itu bukan hanya untuk memilih di antara dua pilihan, tapi juga bagian untuk bertawakal kepada Allah. datang ke Allah, solat istikharah, selesainya solat taubat sama solat hajat. Solat taubat untuk mengampuni hal yang menyakiti hati kita yang mungkin akhirnya menjadi penyakit hati, solat hajat supaya Allah jadikan kita menjadi hamba yang lebih kuat. curhat dulu sama Allah, minta sama Allah petunjuk. misalnya kita lihat lagi kalau menetap di sana mudhoratnya lebih banyak maka ada kalimat "hijrah" yang diajarkan oleh Rasulullah ketika Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah. sedih Nabi tapi menetap di Makkaah saat itu hanya akan menimbulkan rasa sakit yang lebih luar biasa lagi kepada para sahabat yang lain, dan itu akan membuat Rasulullah juga sedih. maka ada kata hijrah. 


Tapi sebelum hijrah libatkan dulu Allah, baru kedua orang tua. minta ridho Allah lewat solat, minta petunjuk sama Allah lewat solat, libatkan Rasulullah untuk hijrah, lalu ceritain sama orang tua, sampaikan, minta pendapatnya, kalau sudah dapat pendapat baru kita pikirkan lagi yang terbaik. kalau ngomong takut bikin mereka kecewa, kita lihat lagi insya Allah orang tua akan mengerti. Kalau misalnya kita menetapi suatu tempat yang sama dan itu menghadirkan rasa sakit yang luar biasa, orang tua mana yang pengen lihat anaknya menderita? Kan tidak ada. Itu kalau misalnya yang terbaik adalah hijrah. tapi kalau misalnya kita mikir lagi bahwa setiap orang pasti punya ujiannya masing-masing, bisa jadi ridho Allah, Rasulullah dan orang tua kita terletak di tempat kerja itu, bisa jadi yang sekarang kita dapatkan itu adalah hal yang lebih baik daripada yang kita harapkan. Ini mengajarkan hati kita untuk lebih menjaga hati, mengajarkan kita ketika ada di tempat ini pikiran kita yang baik itu harusnya seperti apa. jadi yang dilakukan adalah solat, libatkan Allah, Rasulullah dan orang tua, yakinkan diri kita apapun jawabannya adalah yang terbaik. 


4. Bagaimana ketika kita sudah niat puasa sunnah kemudian sudah bilang orang tua kita mau puasa lalu diberikan sarapan lalu kalau kita bilang kita lagi puasa lalu dibilang suruh buat buka aja dan puasa lain waktu Apakah sebaiknya dibatalkan atau bgmn

=> niat puasa sunnah. Kalau niatnya puasa sunnah, dan perintah org tua adalah wajib, maka batalkan puasa, itu kalau niatnya puasa sunnah. Tpi kalo niatnya sesuatu yg wajib, seperti qodho, jangan dibatalkan. Kalau solat aja ketika solat sunnah lalu dipanggil ortu apalagi ibu kita harus membatalkan solat, begitu juga puasa. gapapa sarapan. InsyaAllah pahalanya dilipatgandakan. 


5. Bagaimana cara kita Menjelaskan ke orang ketika kita pernah dengar "hati-hati kalau malas sollat karena bisa jadi orang ga solat itu karena Allah yang nggak kepengen"


=> lihat teman kita kalau misalnya kita sampaikan itu belum sampai ke dianya, sampaikan yang ringan-ringan saja. karena memang ada beberapa yang sudah mengerti pembahasan dengan kalimat yang agak berat, ada juga yang tidak. Jadi lihat menurut kita dia udah sanggup belum, kalau belum sanggup untuk mendapatkan kalimat yang lebih berat atau lebih susah untuk menjelaskannya, maka jangan kita sampaikan, sampaikan ringan-ringan aja. 


Halal share dan di mohon untuk tidak menghilangkan sumber catatan, BaraakAllah Fiikum.


Salam cinta 💙

 𝓜𝓽. 𝓓𝓪𝓻𝓾𝔃𝓩𝓪𝓱𝓻𝓪

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dars Risalah Muawanah - Ustadzah Dara Husaien

Dars Risalah Muawwanah 11 Mei 2024

Dars Risalah Muawwanah 2 Desember 2023