Dars Risalah Muawwanah 25 November 2023

 Bersama: Ustadzah Dara Husaien 

Waktu: 25 November 2023 (13 Jumadil Awwal 1445H)

Halaman: 169


=======================

*DARS RISALAH MUAWWANAH*

*FASL SYUKUR*


Temannya sabar adalah syukur, ketika kita bisa melewati sabar, maka akan mudah bagi kita untuk mensyukuri apa yang sudah Allah berikan kepada kita. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Haddad bahwa, “untukmu sudah seharusnya mensyukuri atas segala nikmat yg sudah Allah berikan kepada kita. Ntah nikmat yg diberikan secara dzahir, bathin, agama, atau yang kita punya di dunia. Karena sesungguhnya semua yg kita miliki di dunia ini datang nya dari Allah. Dalam Al-Qur'an surat An-Nahl ayat 53 dikatakan bahwa:


 *وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ* 


Artinya: _“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”_ 


Oleh karena itu apabila Allah memberikan kepada kita sebuah nikmat, maka sudah seharusnya kita mensyukuri, bagaimana cara kita memberikan wujud atas nikmat yg Allah berikan kepada kita, contohnya apa? Yaitu mengucap rasa syukur "Alhamdulillah" di lisan dan di hati. Allah tidak akan memberikan kenikmatan secara bathin kepada hamba nya, kecuali apabila si hamba ini memiliki getaran pada hati nya ketika tengah terjadi sesuatu. Contohnya ketika hadir ke majelis dan di hati merasa tenang, sering beristighfar & bersholawat. Nah itu semua sudah termasuk hidayah tipis-tipis dari Allah, sebab tidak semua hamba Allah diberikan hidayah dan tidak semua pula merasakan sinyal kasih sayang & cinta nya Allah. Dikatakan juga oleh Imam Haddad bahwa, kalaupun dia adalah seorang yang fakir (orang yg lebih miskin daripada orang miskin) & dalam keadaan fakir tersebut Allah memberikan rasa sakit serta tak bisa berbuat apa-apa, tetapi dia tetap menyadari bahwa Allah masih memberikan nya nikmat hidup & bersabar, maka itulah rasa syukur sesungguhnya. Jadi hukumnya bersyukur itu wajib atas segala nikmat yang ada, walaupun misalnya dalam keadaan sehat dzahir tetapi bathin nya sakit (misalnya sombong, takabur, suudzon, riya', hasud, hubud dunya, dll) maka tetap harus bersyukur. Lalu apa tugas yg harus dilakukan untuk menyembuhkan bathin nya? Datanglah ke Allah, mintalah kepada Allah untuk memberikan waktu dalam kesabaran atas sakit bathin nya kita & syukuri semua nya. 


Terkadang kesalahan terbesar kita sebagai hamba Allah adalah kita hanya melihat rasa sakit pada diri sendiri, ntah dzahir maupun bathin & merasa seakan-akan bahwa Allah itu tidak adil, padahal Allah sudah memberikan banyak nikmat yang sempurna kepada kita selama ini, hanya saja kita tidak sadar & terlalu sibuk dengan rasa sakit. Dan padahal apabila kita mensyukuri nikmat itu semua, maka akan berimbas pada rasa sakit yang akhirnya akan kita syukuri juga. Seandainya Allah tidak mendatangkan rasa sakit serta kepedihan bathin kepada kita, mungkin akan sulit kita datang kepada Allah, mungkin akan lebih lama untuk kita dekat dengan Allah, mungkin akan lebih sibuk kita dengan dunia, dan itulah yang akan terus membuat kita jauh dari Allah. Jadi tujuan Allah kasih kesehatan dzahir adalah untuk kita mensyukuri nikmat yg sudah Allah beri, dan Allah kasih kesakitan bathin kepada kita adalah untuk membuat pribadi ini menjadi hamba yg bersabar. Nah makanya ketika itu semua terjadi & kita datang kepada Allah, pasti kita akan semakin merasa bahwa Allah itu adil, bahwa Allah itu ada, Allah itu dekat.


Jika kita gabungkan antara sabar & syukur, maka sebesar apapun ujian yg Allah berikan, kita akan tetap mudah mengucapkan "Alhamdulillah yaa Allah, karena apabila engkau tak memberikan ujian ini, mungkin bisa jadi hamba akan semakin terlena dan lupa kepada engkau". Sebab apabila Allah menurunkan sesuatu kepada hamba nya baik secara yg kita suka ataupun tidak, itu pasti akan ada hal setelahnya. Dan sebelum hal itu ditunjukkan, maka kepada kita wajib untuk membiasakan diri bersyukur. Oleh karena itu Imam Haddad berkata, apapun yang terjadi kepada kita baik disenangi maupun tidak, maka wajib untuk kita mensyukuri nya. Semakin kita bersyukur kepada Allah, semakin kita sadar bahwa kita sangat membutuhkan Allah dan kita tidak akan ada apa-apa kecuali karena Allah. Dikatakan lagi oleh Imam Haddad bahwa orang yang suka bersyukur atas syukur itu sendiri, maka hal pertama yang didapatkan yaitu nikmat yang kekal, karena syukur adalah jalan daripada nikmat yang sebenarnya dari Allah, nikmat yang tidak akan pernah ada habisnya, nikmat yang tidak akan pernah merasa kekurangan apapun. Kemudian yg kedua yaitu wasilah bagian dari menerima segala takdir Allah, dimana nikmat yang sebenarnya adalah nikmat yang bisa merasakan langsung dari Allah, nikmat yang tidak pernah merasa kurang akan sesuatu yang terjadi.


Contoh yang tak pernah merasa kekurangan adalah Sayyidah Fatimah. Kala itu Sayyidah Fatimah pernah memakan satu buah kurma yang dibagi dua dengan Sayyidina Ali. Akan tetapi Sayyidah Fatimah tidak merasa kurang, melainkan merasa itu semua cukup, beliau mensyukuri segala nikmat yang ada, sehingga Allah berikan rasa kecukupan di dalam dirinya. Apabila kita mensyukuri nikmat yg ada, maka akan ada suatu nikmat yg kekal baik di dunia maupun di akhirat. Ketika kita meniatkan syukur yg kita usahakan hanya untuk di dunia saja, maka ketika kita wafat selesai sudah nikmat yg ada. Tetapi apabila kita meniatkan rasa syukur yg sebenarnya untuk dekat dengan Allah & bertahan sampai akhir, sampai akhirat, maka nikmat itu akan kekal sampai kita wafat & akan terus merasa berkecukupan. Allah berkata dalam firman nya di surat Ibrahim ayat 7:


*وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ*


Artinya: _“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”_


📚 Kesimpulannya:

“Allah akan berikan rezeki yang berlimpah kepada hamba nya apabila seorang hamba nya pandai bersyukur. Dan ketika kita bersyukur atas apa yang Allah berikan, maka akan semakin banyak pula ujian nya. Kenapa? Karena itu merupakan tanda kasih sayang yg Allah berikan kepada hamba nya, untuk membuat seorang hamba nya lebih mengingat & lebih dekat kepada Allah. Wallahu 'alam bishawab ”


Allah akan terus memberikan nikmat dzahir wa bathin wa din, bagi orang-orang yang bersyukur dan bersabar tanpa batas. Karena orang yang benar-benar bersyukur akan tau bahwa nikmat dunia akan hilang, sehingga mereka pasti meniatkan suatu rasa syukur tidak hanya untuk dunia melainkan juga untuk akhirat mereka. Dan Allah memuliakan orang-orang yang selalu bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan. Seperti hal nya Allah memuliakan Sayyidah Fatimah, dimana Allah jadikan rasa syukur nya berupa nikmat yang kekal sampai akhirat. Apa buktinya? Yaitu Allah jadikan Sayyidah Fatimah Az-Zahra sebagai pemimpin para penghuni wanita-wanita di surga, MaasyaaAllah. Seseorang akan lebih mudah bersyukur kepada Allah ketika ia bisa menyadari bahwasannya apa yang terjadi adalah kehendak dari-Nya. Dan Allah tidak akan memberikan suatu nikmat yang besar kepada suatu kaum, apabila suatu kaum tersebut tidak mau merubah dirinya sendiri, seperti yang dijelaskan pada Al-Qur'an surat Ar-Ra'd ayat 11:


*اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ*


Artinya: _“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”_


Jadi disini nikmat yang dimaksud adalah cobaan yg Allah turunkan kepada hamba nya, dimana cobaan tersebut diturunkan dengan tujuan untuk membuat hamba nya sadar bahwa sebaik-baiknya meminta pertolongan hanyalah kepada Allah, dan juga untuk membuat hamba nya semakin dekat dengan Allah. Akan tetapi, terkadang ada juga seorang hamba yang apabila diturunkan nya suatu cobaan, ia malah semakin jauh dari Allah dan menyalahkan takdir. Nauzubillah, semoga kita tidak termasuk golongan daripada orang-orang yang menjauh dari Allah. Oleh karena itu, mulai sekarang cobalah untuk mencerna betul-betul atas takdir yg Allah berikan, jangan langsung menjudge atas takdir yg terjadi. Coba sekali-kali kl datang suatu cobaan berfikir, mungkin saja cobaan yang terjadi adalah balasan atas dosa-dosa yang telah kita perbuat. Percayalah, pasti setelah itu akan muncul yg namanya rasa syukur & sabar tiada henti di dalam diri kita. Di dalam Al-Qur'an Allah berkata di surat Al-Baqarah ayat 172:


*يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ*


Artinya: _“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.”_


Makanya apapun yang kita dapat, kita makan, bersyukurlah. Karena di dalamnya pasti ada sesuatu yang baik, yang kita tidak ketahui. Jadi bisa kita ketahui bahwa dalam Al-Qur'an banyak sekali Allah mengingatkan hamba nya untuk selalu bersyukur, hanya saja terkadang kita tidak menyadari nya. Nabi Muhammad ﷺ pernah berkata, ketika hati dan lisan kita selalu berdzikir (mengingat Allah), dan hati nya selalu bersyukur, maka itulah tanda bahwa kita ingat kepada Allah. Dan apabila kita ingin melihat keimanan dalam diri, maka lihatlah rasa sabar pada diri kita. Apabila sabar kita tamam, berarti kita mendapatkan ½ Iman, & apabila syukur kita tamam, berarti kita akan mendapatkan ½ nya iman lagi. Karena kata Nabi iman itu bagian dari sabar dan syukur. Oleh karena itu, apapun yang Allah berikan syukuri, apapun yang Allah berikan sabar, sebab di dunia ini hanya sementara & yg kekal hanyalah akhirat.


Kemudian Imam Haddad berkata bahwa kita harus bersyukur kepada Allah atas nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat mengingat Allah, dll. Jadi masih banyak hal-hal kecil yang bisa kita syukuri, jangan mencari-cari sesuatu hal yang besar baru kita bersyukur. Karena sesuatu yang kecil ketika hilang baru berasa, contohnya adalah nikmat nafas. Terkadang kita lupa mengucap Alhamdulillah atas nikmat nafas, padahal tanpa nafas kita tidak bisa hidup. Nah itu mungkin rasa syukur yang terlihat sepele, padahal justru itu adalah sesuatu hal yang besar ketika hilang dari diri kita. Cobalah diri ini belajar untuk fokus pada sesuatu hal kecil yang sudah Allah berikan, jangan hanya fokus pada sesuatu yang besar terus. Jangan sampai kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang besar sampai kita lupa mensyukuri sesuatu yang kecil. Dan Imam Haddad berkata lagi, biasanya kita betul-betul bisa bersyukur apabila kita tau bahwa nikmat tersebut tidak akan bisa sampai pada kita kecuali atas kekuatan dan kekuasaan Allah, kasih sayang Allah, serta cinta nya Allah. Semakin dekat dengan Allah, maka semakin terasa nikmat yg Allah berikan, dan semakin yakin bahwa semua yg terjadi dalam hidup adalah datangnya dari Allah & itu merupakan bagian daripada rahmat. 


📚 Kesimpulannya

“Pondasi nya syukur adalah ma'rifatul qalbi (hati yang yakin kepada Allah). Jadi apabila kita banyak suudzon sama Allah, itu pertanda bahwa kita belum sampai pada ma'rifatul qalbi dan belum benar-benar kenal & cinta sm Allah. Karena seorang hamba dapat dikatakan ma'rifatul qalbi, dekat dgn Allah adalah apabila ia diberikan ujian, maka ia akan bersabar & bersyukur.”


Jika misalnya Allah memberikan kepada kita suatu hal & kita meninggalkan syukur, maka sesungguhnya kita sedang terjatuh dan masuk dalam kekufuran, dan itu akan membuat nikmat tadi berubah menjadi niqam (lawannya nikmat) dan menjadi salah satu orang-orang yg termasuk jatuh pada istidraj. Seperti dalam firman Allah di surat Al-A'raf ayat 182:


*سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ*


Artinya: _“akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”_


📚 “Dalam keadaan apapun, bersyukurlah. Jangan sampai kita lupa dengan yang namanya syukur sampai-sampai kita melupakan atas nikmat Allah selama ini, dan jangan sampai kita terjatuh menjadi hamba yang istidraj. Nauzubillah”


Dalam hadits, Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan kepada kita: “Sesungguhnya Allah memberikan kesempatan kepada orang yg dzalim. Tetapi ketika Allah memberikan kesempatan itu, maka Allah tidak akan memberikan kesempatan yang lain”. Jadi ketika Allah memberikan kepada kita suatu kesempatan & nikmat dan kita bersyukur, maka kita aman. Sebaliknya apabila Allah memberikan kita kesempatan & nikma, tetapi kita tak bersyukur, maka bisa jadi kita akan celaka. Imam Haddad berkata bahwa bagian daripada syukur adalah kebahagiaan yang tak akan pernah ada hentinya. Dan orang yang bersyukur serta mentakzimkan nikmat Allah meskipun kecil, maka pada saat itulah Allah akan terus mengingat kita & menambah nikmat yang lebih besar dari sebelumnya. Seperti di dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 152 Allah berfirman:


*فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ*


Artinya: _“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”_


Kemudian yang terakhir daripada bab rasa syukur itu sendiri adalah membicarakan tentang nikmat yang dirasakan. Apakah boleh? Boleh asalkan bukan untuk bersifat sombong, melainkan menjadikan kita untuk terus mengingat yang namanya rasa syukur. Karena sesungguhnya sesuatu yang dikerjakan dengan niat baik itu termasuk ibadah. Jadi segala sesuatu itu di niat kan yang baik-baik seperti hal nya para Salafunassholeh. 


📚 *Catatan:* 

“Apabila kita merasa berat untuk mengamalkan ilmu yang kita punya, jangan berhenti melainkan terus cari & selesaikan sampai akhir hidup kita. Meskipun masih banyak tugas yang harus diamalkan gapapa, kunci nya yaitu jangan diliat banyaknya, sebab jika dilihat banyaknya maka otomatis perlahan-lahan kita akan malas untuk melanjutkan mencari ilmu nya.”


📑 *QnA:* 

1. Terkadang ada saja yang memancing kita terhadap sesuatu hal, hingga pada akhirnya kita lupa untuk bersyukur & tanpa disadari malah memiliki sifat iri terhadap nikmat orang lain, dsb. Lantas apakah yang harus kita lakukan agar bisa lebih banyak bersabar & bersyukur?

» Ada beberapa iri yang diperbolehkan, asalkan itu menjadi pacuan untuk diri kita berubah ke pribadi yg lebih baik lagi. Contohnya adalah ketika kita berkumpul dengan para orang sholeh, pasti sesekali kita iri & minder karena tidak merasa sepadan dengan mereka. Akan tetapi itu semua bisa kita jadikan sebagai dorongan untuk lebih semangat lagi dalam memperbaiki diri & jangan lupa untuk mendo'akan yang baik-baik kepada orang sholeh tersebut. Kemudian ingat-ingat lagi, bagaimana bisa kita berkumpul dengan para orang sholeh jika bukan karena Allah yang mau? Nah disitulah kita sudah seharusnya untuk bersyukur, bisa jadi itu merupakan kode dari Allah untuk kita lebih semangat perbaiki diri & memperbaiki kualitas ibadah. Wallahu 'alam bishawab …


2. Bagaimana caranya kita tetap bersyukur dan bermuhasabah diri atas setiap musibah yang terjadi dalam kehidupan? 

» Caranya yaitu diliat dulu bagaimana musibah nya. *Misal* musibah kebanjiran, maka bermuhasabah lah bahwa bisa jadi itu semua karena kita sering membuang sampah sembarangan, dll. Dan jangan lupa untuk mengucapkan *Alhamdulillah* meskipun mungkin sakit diatas musibah yang ada. Tetapi, kita tidak boleh menyalahkan Allah, karena Allah itu yang mengatur segala kehidupan kita & Allah tidak akan mungkin gagal dalam mengatur kehidupan hamba nya. Kembali lagi kepada diri sendiri bahwasannya rasa sakit itu datang biasanya karena diri sendiri lah yang mencari rasa sakit itu. 


3. Bagaimana caranya mengendalikan perasaan yang terikat pada cinta yang haram? Contohnya sepasang suami istri yang sedang jarak jauh, dan istri nya mencintai orang lain dengan alasan kurang kasih sayang suami nya

» Dari salah seorang syaikh pernah berkata, menikahlah apabila hati kita sudah bergantung pada Allah, maka ketika sudah menikah nnti, InsyaaAllah akan mencintai pasangannya karena Allah. Sebab cinta yg haram datangnya adalah dari setan, jadi jangan pernah mau mencintai seseorang karena setan.


Sekian kurang lebihnya mohon maaf, Wallahu 'alam bishawab. Semoga bermanfaat 🤍 …


Salam Cinta 💙

𝓜𝓽. 𝓓𝓪𝓻𝓾𝔃𝓩𝓪𝓱𝓻𝓪

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dars Risalah Muawanah - Ustadzah Dara Husaien

Dars Risalah Muawwanah 11 Mei 2024

Dars Risalah Muawwanah 2 Desember 2023