Dars Risalah Muawwanah 9 September 2023

 *DARS RISALAH MUAWWANAH FASL TAUBAT*


๐ŸŽ™️ : Ustadzah Dara Husaien 

๐Ÿ—“️ : 9 September 2023


Kita menyambung tentang roja dan khouf, harap dan cemas. Dikatakan oleh Imam Hadad bahwa yang disebut sebagai manusia itu terbagi menjadi 3 golongan : 

1. Roja dan khouf nya seimbang. 

Mereka adalah orang-orang yang sudah bertobat kepada Allah SWT. dan ketika bertobat Allah berikan kepada mereka ketenangan, tentram hatinya dan kalau nggak sama Allah itu kayak ada yang hilang dari dirinya, hatinya, pikirannya. Kenapa? Karena dia menempatkan Roja dan khouf itu sama rata. dia takut tapi berharap. dia cemas tapi mengadu kepada Allah. 


Orang golongan pertama ini mereka yang ketika ada bisikan hawa nafsu di dalam dirinya dia nggak peduli. bisikan hawa nafsu itu bila membuatnya jauh dari Allah dia tinggalkan, tapi jika hawa nafsu itu menjadikan ia dekat dengan Allah maka ia lakukan.


 jadi orang-orang yang seperti ini dikatakan Ada kerinduan yang luar biasa di dalam dirinya terhadap Allah, ada rasa cinta yang luar biasa atas Allah SWT dan rasa takut yang akhirnya menjadikan dia ta'dzim kepada Allah. ditinggalkan segala maksiat dikerjakan segala taat, karena dia menetapkan roja dan khouf sama rata. 


2. dikatakan Imam Haddad di sini jika kebanyakan orang-orang yang beriman itu masuk ke golongan yang kedua ini. Yaitu golongan manusia yang tidak mampu untuk menjaga dirinya untuk selalu menjalankan perintah dan kadang ada sesekali atau sering juga atau cenderung melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. 

Kata Imam Haddad kalau masuk golongan ini maka bagaimana dia melatih untuk menjadikan khouf dan rojanya sama rata. kalau di golongan pertama sudah rata, yang kedua ini karena dia belum rata maka bagaimana dia mengusahakan untuk sama rata. bagaimana dia harusnya menjadikan khouf dan Roja itu dalam keadaan yang seimbang. pelan-pelan sampai bisa masuk ke golongan yang pertama. 


Di sini ada hadist kata Nabi SAW "andaikan rasa cemas dan rasa harap seorang mukmin itu diimbang maka keduanya pasti seimbang" ini peringatan dari Nabi bahwa adanya rasa cemas dan harap dari seorang hamba itu betul-betul harus sama rata. kenapa? supaya dia bisa betul-betul mendekatkan dirinya kepada Allah dan meninggalkan maksiat. 


Kadang kita pengen PDKT dengan Allah, melakukan semua ketaatan, melakukan semua sunnah, tapi maksiat masih kita jalankan. seakan-akan "oh ntar dosa ana dihapus kok kan ana lagi pdkt sama Allah". hal-hal yang seperti ini yang seharusnya kita hindari. karena kata Rasul di sini mengatakan kepada kita jadikan khouf dan roja itu sama rata, dan ketika dia seimbang maka kita nggak akan memikirkan apa itu maksiat, yang kita fokuskan adalah bagaimana kita terus berdekatan dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 


3. Dikatakan di dalam hadis di sini golongan orang yang lalai. Saking lalainya dia tidak bisa membedakan mana yang halal mana yang haram, mana yang boleh mana yang nggak. karena saking banyaknya maksiat yang dia lakukan, saking banyaknya kelalaian yang sengaja dia kerjakan. itu akhirnya menjadikan dia kehilangan akal membedakan mana yang halal mana yang haram. menurut dia semuanya boleh-boleh aja. 


Kata Imam Haddad, kalau sudah masuk ke golongan ini, maka biasakanlah orang-orang seperti ini untuk menghadirkan dulu rasa takut (khouf) itu. kenapa? Krn ketika dia lebih banyak takutnya (dia takut hukuman di akhirat, takut masuk neraka, takut meninggal su'ul Khotimah, dll) rasa takut itu yang akan menjadikan kecemasan itu muncul yang menjadikannya untuk bertaubat kepada Allah. 


sekarang kita tanya sama diri kita, kita berada di dalam golongan masuk golongan mana?


Datang terus sama Allah, hadirkan khouf dan roja. terkadang kita terlalu sibuk untuk mengetuk hati makhluk. kita pengen makhluk senang sama kita sampai kita lupa bahwa mengetuk pintu Khalik yang selalu terbuka. Bahkan kita nggak perlu ketuk kita bisa masuk kapanpun karena pintu taubatnya Allah itu selalu terbuka lebar, tapi kita yang jarang masuk dan kadang kita mau masuk aja mikir "nanti lah masih kebuka" padahal ketika pintu taubat itu Allah buka selebar mungkin, sebesar mungkin banyak orang yang berlomba untuk masuk ke dalam, tapi ketika itu jelas di hadapan kita kita memilih memutar balik badan, "nantilah sebentar lagi, sedikit lagi," padahal kita nggak tau pintu yang Allah buka lebar itu bisa tertutup kapan saja kapanpun Allah mau. 


Ketika kita berusaha untuk mengetuk pintu mahluk, kenapa kita nggak hadir ke pintu Khalik? kita hadir ke pintu Khalik enggak perlu ketuk kita langsung masuk dan Allah menyambut kehadiran menyambut kedatangan kita. sebagaimana pernah disampaikan oleh sayyidil Habib Umar di salah satu dara beliau "Allah selalu membentangkan tanganNya ketika hambaNya datang kepadaNya untuk bertaubat". dibentangkan tangannya seakan-akan kita disambut baik, "ya hambaku mau apa? tobatnya kayak gimana?"


kalau kita menutup pintu makhluk enggak semua orang langsung membukakan pintu. ada yang mikir dulu, ada yang nengok dulu dari lobang. 


Ingat, kita hidup di akhir zaman, kita tau perempuan fitnah besar.


Selanjutnya Imam Haddad mengingatkan, kalau kita ngomong sama orang, orang yang Awam, dia tidak tau, dia belum belajar, maka batasi lah pembicaraan kita tentang roja terhadap mereka. Kenapa ? Krn kita bisa menjelaskan bahwa Roja adalah janji pahala besar yang Allah janjikan kepada mereka yang menjalankan kebaikan, berusaha meninggalkan segala bentuk kemaksiatan. cukup sampai itu kalau kita ngomong sama orang yang awam / baru hijrah yang tidak tau sama sekali tentang apa itu roja, apa itu khouf.


 misalnya orang-orang yang baru mau pengen memperbaiki diri, maka jelaskanlah kepada mereka tentang rodja seminim mungkin agar bisa menghadirkan khouf. Jadi mereka tidak hanya bersandar dengan roja. tapi orang-orang yang hanya Bersandar kepada Roja tanpa bersandar ke khouf itu mereka lebih banyak melakukan ketaatan. Maksudnya mereka akan hati-hati dalam melakukan maksiat dan betul-betul melakukan taat. jadi seimbang. 


 Kita juga harus meninggalkan maksiat seperti kita cerita sama Allah. contoh ringannya kita cerita sama Allah, kita ungkapkan semuanya kepada Allah, kita sampaikan isi hati kita sama Allah, tapi ketika ada hal yang gak sesuai dengan keinginan kita kita salahin Allah. akhirnya karena seperti itu yang awalnya Pengen deket sama Allah akhirnya kan jauh. 


begitupun ketika kita melakukan ketaatan tapi maksiat pun kita lakukan. kalau kita melakukan ketaatan itu pasti Allah kasih ujian dan di situlah "kok diuji Ya Allah, kan saya udah melakukan ketaatan tadi" Jadi kita mengajarkan pada orang awam untuk seimbang, untuk bagaimana mereka melakukan taat dan lalu meninggalkan kemaksiatan. 


Imam Hadad menyatakan tentang Qunud (berputus asa atas rahmat Allah), seperti rasa cemas dan takut terus kayak tidak ada harapan. betul-betul putus asa deh seakan-akan Allah nggak sayang sama dia. dan juga aman yang berlebihan. 


disampaikan oleh Imam Haddad dua hal ini (qunud dan aman) termasuk daripada dosa besar. Qunud tadi putus asa, merasa Allah nggak kasih Rahmat sama sekali. Begitu juga dengan aman. orang-orang yang merasa dirinya aman, saking merasa amannya dia ngerasa 'sebesar apapun dosa yang dia lakukan dia akan tetap aman daripada siksanya Allah karena dia berbuat ketaatan' tapi ketaatan yang dilakukan itu diiringi dengan rasa sombong, dengan amal itulah yang akan membuat dia Aman.


Dikatakan bahwa orang-orang yang qunud dan aman adalah orang-orang yang jauh daripada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dia tidak kenal Allah yang sebenarnya. dia merasa kenal padahal enggak. dia meninggalkan ketaatan dan melakukan maksiat, karena yang dia lihat jika ketaatan itu nggak ada manfaatnya buat dia. Nah itu dikatakan putus asa dari rahmat Allah. 


Begitu juga dengan aman, dia merasa aman ketika melakukan maksiat, karena dia tahu Allah bakal memasukkan orang-orang yang beriman ke dalam surga. karena dia yakin dengan dalil tersebut Akhirnya dia melakukan maksiat seenaknya dia aja, "nggak apa-apa nih masih diampunin sama Allah" rasa aman yang berlebihan itu yang membuat kita ngerasa kenal padahal enggak. ibaratnya bertepuk sebelah tangan, engga enak hidupnya. sedangkan yang kita cari adalah bagaimana kita bisa mendapatkan cinta dan rahmat Allah. 


Jadi kata Imam Haddad hindari qunud dan aman. lakukan taat tinggalkan maksiat. ketika kita ada merasakan cape ketika untuk melakukan ketaatan, ingat ada Roja ada khauf, ada Qunud ada aman. Ketika kita merasakan rasa aman, orang-orang yang aman itulah orang yang tidak mengenal Allah. begitu juga dengan orang yang qunud. sedangkan kita pengen diakui oleh Allah sebagai hambanya. jadi ketika kita ingin diakui oleh Allah maka bagaimana kita menghilangkan dan menghindari diri kita dari qunud dan rasa aman tadi. 


Dikatakan juga oleh Imam Haddad, ketika kita mau menghindari qunud dan aman, hindarilaangan-angan-angan atau khayalan kosong untuk mendapatkan ampunan dari Allah. karena hal-hal seperti ini (misal kita mendengar kalam "sesungguhnya Allah mengampuni setiap dosa ketika seorang hamba melakukan hal ini/ taubat ini/ amalan yang ini") nah ketika kita mengerjakan hal yang tersebut lalu Akhirnya kita tetap melakukan maksiat, kata Imam Hadad itu adalah bagian dari angan-angan memperoleh ampunan.


 kita harus menghindari khayalan kosong untuk memperoleh ampunan dari Allah, karena khayalan itu akhirnya membuat kita hanya fokus pada amalan tersebut dan kita tidak fokus amalan yang lain. 


Kata Imam Haddad, saking bahayanya hal yang seperti ini akhirnya amal soleh yang seharusnya kita tabung jadi nggak jadi ditabung karena kita terlalu fokus sama khayalan kosong yang kita nggak tahu apakah amalan amalan itu diterima oleh Allah atau tidak. makanya kata Imam handar, "mau melakukan amalan silakan tapi Jangan terpaku atas nikmatnya saja"  


Sedangkan hadis Nabi SAW tadi kan, "orang yang cerdas adalah orang yang dapat menundukkan nafsunya" dia tundukkan nafsunya dan bekerja untuk menyiapkan bekal setelah mati. Kata Nabi SAW "dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah beberapa Anugerah" maksudnya adalah kalau orang yang beriman ingin betul dan yakin kepada Allah 

Dan Rasulullah maka ketika dia melakukan amalan dia tidak terpaku pada amalan itu. karena tugas kita di dunia adalah untuk mengumpulkan amal untuk menjadikan bekal, karena kita nggak tahu amalan yang mana diterima nanti di akhirat, bisa jadi amal yang paling kecil, bisa jadi amalan yang paling besar ketika kita melakukan di dunia.


Ketika ada yang bilang "nikmatin aja hidup di dunia ini krn hidup cuma sekali" Justru krn hidup sekali itu gimana caranya tabung amal banyak banyak. kadang nabung tentang dunia aja kita sulit apalagi nabung akhirat. ketika kita menyibukkan diri untuk tabungan akhirat, maka tabungan dunia akan datang sendiri. 


Dikatakan oleh Imam hadad, sibukkan diri kita terhadap amalan-amalan yang taat berhadap Allah SWT. dan kata Nabi SAW jadilah orang yang cerdas tadi. orang yang cerdas sibuk mengumpulkan bekal untuk kita bawa pulang. 


Dan dikatakan disini ada beberapa orang yang mengatakan bahwa "janganlah bekerja dan berniaga, nanti Allah juga akan mendatangkan rezeki" Nah kalau misalnya ada hal yang seperti itu disampaikan kepada kita, jawab "aku tidak pernah percaya bahwa sesuatu yang datang dengan sendirinya tanpa ada usaha dan pencarian yang diiringi dengan berbagai halangan dan rintangan" 


Dikatakan di sini bahwa jika ada orang yang nahan kita ketika kita pengen taat/ ibadah/ menjauhi maksiat, Lalu tiba-tiba misalnya ada orang yang bisik kepada kita kayak "udahlah ntar kita masuk surga kok, kita kan orang-orang yang beriman" kalau ada orang seperti ini yakinkan pada diri kita dan kepada mereka yang menyampaikan bahwa "setiap sesuatu yang dikerjakan semakin banyak halangannya semakin banyak rintangannya tapi semakin besar usahanya maka akan semakin besar nikmatnya"


Kadang orang pengen yang instan,npengen sesuatu yang "ah nggak papa ntar di akhir-akhir ini masuk surga nikmatin aja" tapi dia lupa dia mau dibersihin dulu di neraka. naudzubillahimindzalik. 


kalau ada orang yang menahan kita untuk melakukan ketaatan, yakinkan dalam diri kita bahwa orang-orang yang betul-betul mendekatkan dirinya kepada Allah semakin besar halangannya semakin besar rintangannya tapi dia semakin berusaha maka Allah akan memberikan hadiah yang lebih nikmat dibandingkan mereka yang ga ada usaha sama sekali. yang kita harapkan bukan pandangan makhluk tapi pandangan Khalik. 


Jadi mereka mengapa terkadang kita mudah untuk mendengar atau menghentikan ketaatan kita atas bisikan-bisikan mmakhluk? Karena kurangnya ilmu kita atau kurangnya percaya kita kepada Allah. kalau kita percaya sama Allah, Sebesar apapun bisikan atau gangguan orang untuk membuat kita berhenti Kita nggak akan berhenti. 


dikatakan oleh Imam Hasan al-bashri "angan-angan memperoleh ampun benar-benar telah memperdaya sebagian manusia sehingga ia pergi meninggalkan dunia dalam keadaan merugi (dari amal-amal soleh)."


semakin besar angan-angannya dia, akhirnya dia meninggalkan dunia tanpa membawa bekal. ketahuilah bahwa dia adalah orang yang rugi dari amal-amal shaleh yang sebenarnya dia bisa tabung di dunia akhirnya nggak bisa karena dia sudah merasa " Oh ana aman ". makanya udh dibilang di awal tadi, hindari rasa aman supaya kita tidak menjadi orang-orang yang rugi .  


Orang beriman dia memiliki takut di dalam hatinya tapi dia tetap melakukan kebaikan, dia tetap melakukan ketaatan. sedangkan orang-orang yang munafik mereka adalah orang-orang yang menggabungkan kejahatan dan rasa aman yakni tetap melakukan maksiat dan merasa aman. dikatakan "orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang sulit dimasukkan ke dalam surga"


dikatakan oleh Imam Hasan Al Basri juga kalau seperti ini jadilah mukmin yang sejati. Orang mukmin yang sejati itu orang yang benar-benar beriman kepada Allah, dia memiliki rasa khouf di dalam dirinya, dia memiliki rasa cemas dalam hatinya, dan ketika dia menjalani kehidupan dia selalu bilang "Belum tentu aku selamat"


Orang yang benar-benar beriman kepada Allah, sebanyak apapun amal yang dia lakukan, sebagaimanapun dia berusaha meninggalkan maksiat dalam hidupnya dan dia masih sempat bilang " Ana belum tentu selamat " 


Orang eriman tetap taat berbuat amal dan orang-orang munafik meninggalkan amal. 


jika kita beriman, yang kayak gimanapun amal yang kita lakukan, sebesar apapun kita berusaha untuk meninggalkan ( Ana belum tentu Selamat ) nda harus tetap berusaha, harus tetap taat dan meninggalkan maksiat, bukan menjadikan kalam munafik yang mengakui bahwa Sebesar apapun dosa Allah akan mengampuni. 


 dikatakan juga di sini bahwa para anbiya dan Aulia beliau-beliau adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan Begitu Sempurna, Pengetahuan terhadap Allah, terus husnuzan mereka selalu berprasangka baik kepada Allah, tapi dengan hal tersebut para anbiya dan Aulia tetap memperbaiki amalan mereka bahkan mempersedikit dosa karena terdapat rasa takut dalam diri para Anbiya ini. 


karena sempurnanya mengetahui Allah itu bukan menjadikan seseorang itu sombong atau merasa kenal dengan Allah. Maka setelah ini kita menyibukkan diri kita untuk menghindarkan diri kita daripada qunudndan aman , berangan-angan berlebihan atas ampun. 


Kembalilah sebelum waktunya kita dipanggil


Kita terlalu kecil untuk merasakan diri kita adalah orang besar, jadi tetaplah merasa diri kita makhluk yg kecil yg membutuhkan perlindungan dari allah yang maha besar. 


Pulanglah sebelum waktunya kita pulang. Datanglah kpd allah sblm kita ga ada kesempatan lagi untuk dtg kpd allah. 


Seberapa pun besar dosa kita ini, seberapa pun besar cobaan dan rintangan yang Allah berikan dan sedikit apapun amal tapi masih tetap istiqomah kita lakukan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Allah tidak pernah ninggalin kita, Allah selalu ada, Allah selalu mengingatkan kita dengan caraNyam


Kita tahu kita adalah makhluk yang lemah, jiwa kita raga kita semua lemah, banyak kurangnya, tapi kita kadang marah dan kurang bersyukur, kita yang kadang nyalain Allah, tapi sama Allah masih diberi nikmat yang luar biasa. Coba kita pandang nikmatnya kehadiranNya dan kita rasakan ketika kita menyebut nama "Allah" yang kita rasakan cintaNya. ketika kita rasakan cintaNya maka hati kita akan merasakan lapang. 


QnA : 

 1. Telah merasa menerima banyak ilmu dan faidah, nasihat tapi rasanya belum atau masih jauh dari mengamalkan itu semua, adakah saran / solusi harus bagaimana sebaiknya? 

=> kalo belum bisa mengamalkan setidaknya menyampaikan, krn satu ilmu/faedah yang didapat bakalan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bukan hanya menyampaikan tapi sekalian niat mengamalkan. Bisa disampaikan lewat medsos/langsung.


2. Jika ada niat untuk masuk Pondok sudah dapat izin dari orang tua dan Ibu mengizinkan namun Ayah belum mengizinkan apa boleh anak berangkat mondok hanya dapat izin dari ibu kalau untuk biaya Insya Allah saya bisa sendiri? 

=> Kita kembali ke hadis Nabi SAW, "Ridho Allah itu ada di kedua orang tua". Anak tanggungjawab orang tua, dan anak perempuan tanggung jawab ayahnya. Maka ahsan dapat izin ayahnya. 


Kadang hanya datang merayu makhluk tapi nggak ngerayu allah, minta tolong sama Allah " ya Allah bukain hati Bapak ane karena kalau ana ga bisa " minta bantuan sama Allah dan Nabi serta tawassul Sama orang-orang sholeh sekaligus pemilik pondok dan jangn lupa minta doa ibu.m krn mustajab. 


3. Bagaimana cara menambahkan khauf dan roja dan bagaimana agar kenal Allah dengan sempurna

=> tinggalkan maksiat, kerjakan taat, juga perlu belajar aqidah, karena di dalam itu kita bisa menambahkan rasa kenalnya kita kepada Allah. jadi supaya bisa kenal dengan Allah sempurna belajar akidah dari kitab mana aja, bisa dimulai dari kita aqidah mujmalah atau aqidatull Awwam, karena di dalam aqidah itu kita akan mengenal Allah dengan segala sifatnya Allah. 


4. Kalau kedua orang tua tidak mengizinkan untuk mondok Padahal kita pengen? 

=> rayu allah dan Nabi serta tawassul. Kalau udah ikhtiar tapi belum takdir maka bisa jadi yang kita anggap baik itu belum tentu baik menurut Allah. dan kalo ga dikasih Mintalah kepada orang tua kita pelajaran dari keduanya, atau menuntut ilmu bisa di mana aja. Kalo ortunya ga ikhlas juga restunya bakalan membahayakan kita krn surga kita masih bergantung padanya. 


5. Jika ada seorang ayah yang memiliki pegangan dari makhluk bukan manusia Bagaimana menghilangkan itu sebab jika ayah marah seperti tidak ingat anak sama istri dan sulit melaksanakan ibadah salatnya Apa yang harus dilakukan oleh anak agar bisa menolong ayah? 

=> Kalau kita belajar tentang sejarah bisa dikatakan bahwa jin itu ada tiga, jin kafir, jin fasik dan jin Mukmin. Jin Mukmin adalah Jin yang beriman kepada Allah yang melakukan taat dan tidak melakukan maksiat. Jin fasik itu mereka beriman tapi masih maksiat. nah jin kafir itu adalah yang tidak beriman dan melakukan maksiat. 


biasanya orang-orang yang memiliki pegangan makhluk yang bukan manusia itu sebenarnya harus dihilangkan atau harus kembali kepada Allah. Maka minta tolong sama Allah, doa. Datanglah kepada Allah Karena semua yang ada di langit dan bumi dunia akhirat yang memegang adalah Allah. jadi yang dapat menghentikan pegangan tersebut pastinya Allah. 


Miinta kepada Allah Hidayah yang diberikan kepada ayah kepada kita hidayah Ke mana kita setelah ini? Kemana kita setelah kita meminta kepada Allah? entah pegangan kepada selain makhluk tadi dibuang ( walaupun akan sakit misalnya, tetapi sakit di dunia itu lebih baik dari sakitnya akhirat) 


jadi Datanglah kepada allah minta Hidayah untuk ayah dan untuk diri sendiri apa yg harus diperbuat. mungkin bisa diruqyah atau dibuang. karena Allah tetap mengabulkan doa anak yang benar-benar meminta kepada Allah. bukan hanya doa orang tua tapi doa anak yang sholehah juga. Datanglah kepada Allah dan jangan berhenti untuk meminta Hidayah. 


6. Perempuan kalau ke mana-mana kan harus dengan mahram kalau pernah kuliah jauh lintas pulau dan berangkatnya sendiri Apa kah dosa? 

=> Kalau kita ditanya tentang dosa dosa itu hanya Allah yang bisa menghukumi itu dosa atau enggak, tapi dikatakan di sini perempuan nak ke mana-mana harus sama mahram, betul. tapi ingat lagi di sini dia punya tujuan untuk menuntut ilmu, kuliah merupakan bagian dari menuntut ilmu. dan ketika dia kuliah pun mendapatkan izin daripada kedua orang tuanya daripada mahramnya lalu dilepaslah untuk menuntut ilmu, selagi dia kontakan dalam perjalanan itu lalu sampai di tempat dia pun masih lapor sama orang tua, insya Allah itu masih disebut berpegang dengan mahram jadi ada pengecualian terhadap mereka. Walaupun memang harus dengan mahram nah biasanya untuk orang yang thalibri lain Allah memberikan kemudahan asalkan niatnya betul-betul karena Allah. niatnya bukan untuk karena yang lain selain menuntut ilmu. tapi kalau ditanya dosa atau enggak dosa Tadi hanya Allah yang tahu dan hanya Allah yang boleh menghukuminya seperti apa. 


Wallahua'lam bishowab.



Halal share dan di mohon untuk tidak menghilangkan sumber catatan, BaraakAllah Fiikum.


Salam cinta ๐Ÿ’™

 ๐“œ๐“ฝ. ๐““๐“ช๐“ป๐“พ๐”ƒ๐“ฉ๐“ช๐“ฑ๐“ป๐“ช

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dars Risalah Muawanah - Ustadzah Dara Husaien

Dars Risalah Muawwanah 11 Mei 2024

Dars Risalah Muawwanah 2 Desember 2023