Dars Risalah Muawwanah 23 September 2023
✨ DARS RISALAH MUAWWANAH
📌 Fasl : Sabar
🎙 Ustadzah Dara Husaien
🗓 23 September 2023
Dikatakan oleh Imam Haddad, "orang-orang yang sabar adalah mereka yang mempunyai maqom yang tinggi di sisi Allah SWT." Dan harusnya kita memiliki sifat sabar di dalam dirinya kita, karena itu adalah bagian daripada akhlak yang terpuji, akhlak yang mulia, akhlak yang memiliki Fadhilah yang besar.
sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah "Wahai orang-orang yang beriman, minta tolonglah kepada Allah dengan sabar dan juga sholat, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar". sesungguhnya orang-orang yang bersabar pahala mereka adalah sesuatu yang tidak bisa dihitung.
Rasul SAW bersabda "Sesungguhnya sabar itu adalah panglima bagi prajurit-prajurit mereka yang beriman" "sesungguhnya sabar terhadap sesuatu yang tidak dia sukai, sesuatu yang dia benci adalah kebaikan yang banyak di dalamnya" dan yang terakhir yang disampaikan oleh Rasul SAW kepada Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa " setiap orang yang bersabar pasti akan diiringi dengannya kebahagiaan, kesedihan, dan juga adanya kemudahan, tapi akan juga ada kesulitan."
Sabar itu memang bukan sesuatu perkara yang mudah kalau kita kembalikan kepada diri kita sendiri. ketika kita mendapatkan sebuah musibah, ujian, beberapa dari kita bisa menerima rasa sabar itu, tapi beberapa dari kita ada rasa lelah dalam diri kita ketika kita harus bersabar atas apa yang Allah berikan, lelah yang akhirnya membuat kita bukan semakin dekat dengan Allah tetapi semakin jauh. Padahal kita tau, kadang kita membaca, melihat, mendengar.
Ketika ustadzah Halimah Alaydrus ditanya tentang sabar, kata beliau "sabar itu ada batasnya dan batasnya sampai kita mati" yang artinya nggak akan pernah ada batas untuk kesabaran seseorang. dan disampaikan oleh Habib Ali Zainal Abidin Al Hamid ketika membahas sabar, "sabar itu memang tidak ada batasnya tapi kenapa kadang manusia merasa di dalam dirinya ada batasan atas rasa sabar yang mereka miliki? Karena sebenarnya batasan itu adalah batas yang mereka ciptakan sendiri." Makanya yang harus kita yakini adalah sabar itu tidak akan ada batasnya, enggak akan ada waktunya sampai kapan.
yang perlu kita sadari adalah ketika seseorang itu bersabar atas apapun yang Allah berikan untuk dia, selain akan menimbulkan rasa sabar itu sendiri ada keikhlasan juga. ikhlasnya makin kuat, syukurnya semakin besar, kebahagiaan itu akan lebih sering banyak muncul daripada kesedihan. Ketika seseorang itu sabar, entah itu atas ujian atau musibah atau ketika ujian itu dihadapi nikmat itu dihadapi dengan sabar yang Allah berikan atas dirinya, maka semua itu akan lebih mudah untuk dihadapi, ada kebahagiaan dalam menghadapi hal yang sebenarnya sulit, tapi dihadapi dengan sabar maka semuanya itu akan mudah. seperti dikatakan oleh Nabi SAW tadi, "orang yang sabar atas sesuatu yang dia tidak suka atau dia benci maka akan ada banyak sekali kebaikan di dalam"
Jadi tugas kita adalah menghadirkan dan menghilangkan batas dari kesabaran yang kita ciptakan sendiri. ganti dengan rasa syukur. Ganti batas yang kita ciptakan itu dengan Tanpa Batas. karena orang yang sabar dia akan datang kepada Allah swt. maka dikatakan oleh salah satu maqol yang disampaikan oleh Sayyidina Umar Bin Khattab bahwa "orang-orang yang sabar adalah mereka yang beriman dan orang-orang yang beriman adalah mereka yang kuat atas apa yang Allah berikan kepada mereka"
Jadi bagaimana masalah itu datang dia terima dan dia sampaikan kepada Allah karena dia beriman, dia percaya, dia yakin.
Dikatakan kebahagiaan keberuntungan bisa semakin dekat kepada kita kalau misalnya adanya kedekatan kepada Allah SWT. dan orang yang mendekat kepada Allah, mendekatkan dirinya kepada hal-hal yang haq dan menjauhi yang dilarang dari Allah semuanya, dia sibukkan dirinya dengan semua hal yang haq, semua yang diperintahkan, semua yang harus dia lakukan atas perintah yang Allah sampaikan, dia tinggalkan semua hal yang dilarang, maka dia termasuk orang-orang yang beruntung.
Dan untuk mendatangkan keberuntungan itu disampaikan oleh Imam Haddad yaitu dengan sabar atas apapun yang Allah berikan. dan orang-orang yang sedang mendekatkan dirinya kepada Allah tadi mereka akan menemui masa di mana mereka harus sabar, sabar karena untuk meninggalkan maksiat, untuk istiqomah dalam perkara taat, itu juga membutuhkan kesabaran dalam diri kita.
Allah tidak menjadikan satu takdir dalam hidup kita kecuali Allah hadirkan yang baik setelah itu.
Ketika kita menikmati apa yang Allah kasih, kita akan dikasih hadiah sama Allah. Dikatakan Imam Bashri "untuk melakukan sesuatu atau menyampaikan sesuatu afdolnya adalah merasakan terlebih dahulu baru menyampaikan kepada orang"
•••
Dikatakan oleh imam haddad, sabar itu terbagi menjadi 4 :
1. sabar atas ketaatan kepada Allah SWT
=> Bagaimana dia menjadikan dalam hatinya ikhlas dan bagaimana hatinya hadir. Bagaimana ikhlas yang kita ciptakan dalam hadirnya kita dari awal. bagaimana kita ikhlaskan niat, bagaimana kita hadirkan rasa menerima dalam dirinya kita. Saave dalam ketaatan bagaimana kita bisa Istiqomah atas ketaatan tersebut, bagaimana kita melakukan ketaatan itu betul-betul ikhlas Lillah karena Allah.
menghadirkan rasa sabar dan ikhlas Lillah itu bukan perkara yang mudah, karena kadang beberapa dari kira melakukan ketaatan tapi bukan murni untuk Allah bukan murni untuk Nabix tapi ada di dalam hati kita ingin menarik perhatian orang, bukan karena ingin kita dekat dengan Allah dan Rasul.
Maka kita sibukkan diri kita dengan hal-hal yang manfaat, yang sabar atas taat ini, dan ketika kita taat kepada Allah, kita hadirkan hati kita , kita khusyuk. Coba kita lihat, apakah kita khusyu ketika sholat? Apakah hati kita sudah hadir ketika wudhu? Apakah ketika datang kepada Allah hati kita betul-betul lelah atau hati kita sibuk dengan dunia atau justru hati kita sibuk memikirkan sesuatu yang seharusnya nggak kita pikirkan dalam keadaan sholat?
Untuk menghadirkan hati, untuk menjadikan diri kita khusyuk dalam melakukan ketaatan itu kita butuh sabar. Kalau orang nggak sabar dari awal dia akan berhenti dan nggak dilanjutkan ketaatannya. kenapa? Karena untuk untuk menghadirkan sesuatu yang ikhlas dalam hati kita, hati kita hadir melakukan hal tersebut, kita sabar. waktu untuk menjalani nggak bisa langsung taat, pasti ada ujiannya.
Semua hal-hal kalau kita tidak sabar kita menyerah dari awal. itulah kata Imam Haddad hadirkan kesabaran ketika kita melakukan ketaatan, karena dengan sabar kita tau apa itu perjuangan.
Pasrahkan semua pada Allah, kadang kesabaran itu bukan hanya menghilangkan kecemasan dalam dirinya kita, tapi juga bisa menenangkan hatinya kita. ketika kita pengen marah tarik nafas terus pegang hati kita bilang sabar, tenang.
Tapi kenapa kita sering bilang sabar dan megang hati tapi nggak sabar-sabar? itu karena keyakinan kita yang kurang kepada diri kita sendiri dan kepada Allah. karena yakin itu penting. karena sabar itu bisa betul-betul hadir dalam dirinya kita kalau kita yakin. ketika kita tidak mempunyai keyakinan itu maka kesabaran itu susah datangnya dalam diri kita. Susah kita praktekkan dalam hidupnya kita karena kita sendiri pun tidak yakin. kalau kita yakinkan diri kita, hati kita kita yakinkan bahwa Apapun yang terjadi kita bisa sabar, sabar kok kita. yakin kita ikhlas, kita hadirkan dalam hatinya kita rasa sabar itu maka sabar itu akan datang. Sabar itu juga tidak akan bisa ada di dalam diri kita kalau kita tidak melibatkan Allah di dalamnya.
Ketika seseorang itu mau melakukan ketaatan, Allah akan menguji ketaatan yang sudah dia lakukan, ketaatan yang ingin diistiqomahkan. ketika dia sabar dia tetap melakukan ketaatan itu, maka ketaatan tadi akan menghadirkan nikmat yang besar. paling luar biasanya seseorang itu ketika bisa sabar atas ketaatan.
Ketika ditengah kesabaran ada yg gangguin kita, sabar.
2. Sabar atas maksiat
Dikatakan Imam Haddad, kalau orang yang pengen menjauhi maksiat biasanya susah. kenapa? Karena bisikan setan, gede nafsunya gede sifat setan. tapi ketika dia sabar meninggalkan maksiat itu pelan-pelan, satu-satu dihindari maksiatnya, Apakah Allah akan membiarkan hambanya sendirian dan Allah tidak akan membantu ketika kita ingin menjadi orang yang lebih baik?
Ketika kita melihat kacamata kita, Apakah melihat yang seharusnya tidak kita lihat, kita lihat hidung, lisan, tangan, hati kita. Apakah semuanya sudah aman dari maksiat? belum.
Maksiat yang dimaksudkan adalah tinggalkan satu-satu, pelan-pelan. ketika kita mau memulai butuh Waktu.
Kadang kita yg ga sadar Allah menggenggam tangan kita karn kita lagi fokus sama yg didepan. Padahal kalau kita menyadari bahwa allah menggenggam tangan kita, kita akan fokus pada genggaman itu, bukan maksiat yang ada di depan. karena semakin lebar maksiatnya semakin banyak setannya, tapi semakin lebar dan sering kita mundur mengasingkan diri untuk meninggalkan maksiat itu semakin erat juga genggaman Allah.
Disampaikan oleh Imam Hasan Al bashri, orang-orang yang terbiasa menganggap aman hanya karena sekedar dia adalah umat Nabi Muhammad, terus dia ngerasa aman, itu bisa jadi kita berangan-angan yang besar yang akhirnya membuat orang itu jadi paling miskin ketika di hari kiamat. Makanya kalau orang-orang soleh selesai untuk melakukan maksiat ini karena takut melakukan sesuatu yang bikin Allah kecewa, akhirnya tidak dikumpulkan oleh Rasul, nggak tahu nanti mau jawab apa di hadapan Allah. jadi jadi kita harus hati-hati karena dan orang-orang yang melakukan maksiat di dunia ketika dihadapkan dengan Allah ada satu pertanyaan yang akan Allah tanyakan kepada mereka yang melakukan maksiat yaitu "di mana Aku di hatimu wahai hambaku ketika kamu melakukan maksiat ?"
satu kalimat ini coba ketika dktanyakan itu kepada kita nanti mau jawab apa? masih ada kata 'hambaku' di situ, kita masih diakui tapi di mana kita menaruh Allah?
Jadi selama ini kita tahu Allah menyaksikan kita, Allah nggak pernah meninggalkan kita, tapi ketika maksiat itu kita lakukan kemana keyakinan kita jika Allah melihat kita?
Apalagi kita di bulan Maulid ini kita mengharapkan Rahmat Nabi Muhammad SAW. Apalagi kita tahu ketika orang melakukan Maulid Mahalul Qiyam, Rasul SAW pasti hadir. Ketika kita bercanda mengucapkan istighfar kala melakukan maksiat sepulang dari maulid, gimana misalnya kalo Nabi nanya, "Apa yang kamu lakukan ketika di bulan lahirku ketika ente baru pulang dari acara maulidku?" kita mau jawab apa di hadapan nabi? makanya ketika ada hal yang berhubungan dengan kemaksiatan kata Imam Haddad sabar.
Sayyidil habib umar pernah menceritakan di dars fajar nya, Ingat kata Nabi, "Sesungguhnya hidup dan matiku itu baik untuk kalian" Habib umar menceritakannya dengan senyuman namun matanya berkaca-kaca. Dikatakan oleh Rasul SAW, "hidupku baik untuk kalian karena aku menyampaikan apa yang harus kalian lakukan dan aku menghadirkan sunnah, dan matiku baik untuk kalian, ketika nanti kalian melakukan ketika aku sudah wafat, kalau umatku baik semua itu akan dilaporkan kepadaku syukur, tapi jika nanti sebaliknya itu akan dilaporkan kepada Baginda Nabi itu akan membuat aku beristighfar atas dosa maksiat yang dia lakukan"
kita yang maksiat tapi Nabi yg istighfar untuk kita. Sedangkan kita bertaubat tapi tidak menyesal karena setelah tobat itu kita mengulang lagi.
Kata Habib Umar Rasulullah beristighfar untuk kita sebagai umatnya, terus bagaimana dengan kabar kita apalagi di bulan Maulid ini ? sudah masuk hari ke berapa? hari Kamis sudah 12 Rabiul Awwal. apa yang sudah kita lewati beberapa hari ini? nikmat nggak yang kita rasakan? betul-betul menghadirkan Maulid ga?
Bulan maulid ini bukan hanya untuk kelahiran Nabi tapi bagaimana kita betul-betul merasakan bagaimana perjuangan Nabi SAW, Apa yang dilakukan Nabi? Ini salah satunya adalah peristiwa untuk kita ketika kita melakukan kemaksiatan sabar, atas maksiat sabar.
Sudahlah. cukup batasi sampai detik ini. Jangan lakukan maksiat apapun, maksiat yang kita lakukan entah maksiat dhohir ataupun batin, disengaja ataupun tidak. Ketika Kita sadar istighfar cepat, minta ampun kepada allah, minta maaf kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam karena telah mengecewakan.
Jadi PR kita adalah sabar atas taat dan maksiat. karena apapun yang kita lakukan di dunia ada saatnya ketika kita bertemu dengan Allah.
Ketika kita menyadari Rasul mendapatkan Laporan yang banyak dari malaikat tentang maksiat yang kita lakukan, lalu ketika kita bertemu dengan Rasulullah, yang lain pada senyum karena pada ngumpulin ketaatan kita mau senyum kayak gimana karena yang kita kumpulkan adalah maksiat.
Ingat kata Imam Habib Ali yang menjadikan kita tidak sabar adalah batas yang kita ciptakan. Jadi bagaimana kita menghilangkan batas itu, lalu pertanyaan tadi yang disampaikan oleh Sayyidah Khadijah Al Junaid bahwa "Allah akan mempertanyakan nasihat yang kita lakukan di dunia ini di hadapan Allah SWT"dan bagaimana Seperti yang disampaikan oleh sayyidil Habib Umar bahwa Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam beristighfar. Jadi bagaimana di bulan Maulid ini membuat Rasulullah senang?
Bayangin kita lagi Maulid sendirian tiba-tiba ketika Mahalul Qiyam sendirian kita tiba-tiba Hawanya dingin, ada wangi yang berbeda, Siapa tahu saat itu mungkin kita belum bisa melihat Nabi SAW, Tapi karena kita tahu kita yakin di setiap mahlul Qiyam Rasulullah pasti hadir, bayangin Rasulullah ada di hadapan kita, senyum sama kita , senang, bayangin kita hadir bersama, kita berdua. jadi saat itu ada kita Rasulullah dan Allah SWT. Romantis.
Kalau di hadapan makhluk ketika kita melakukan maksiat kita bisa menghindarix kepada Allah? Kepada Rasulullah? Jadi ketika mau melakukan maksiat, katakan dalam hati kita "ntar mau jawab apa di hadapan Allah ketika kita melakukan maksiat ? Mau sampai kapan kecewain Rasulullah?"
kan mau ketemu Nabi SAW nanti. :)
Ingat Rasulullah SAW itu lahir untuk kita, beliau ada untuk menyelamatkan kita. Jadi tugas kita jangan mengecewakan beliau. dan salah satu cara untuk tidak mengecewakan Nabi adalah mulai bersabar atas taat dan mulai bersabar atas maksiat. pelan-pelan, tertatih nggak papa. jatuh bangun lagi, nggak harus kita meninggalkan maksiat ini dengan lari, tidak. pelan-pelan gpp. kalau memang harus berhenti saat itu kalau jatuh luka gpp berhenti, tapi jangan mundur. maju lagi, bangkit lagi. ingat, di depan ada Rasulullah yang sudah menyediakan tangannya untuk menyambut kita. Dan Allah yang selalu melihat kita, yakni selalu memperhatikan kita. jadi sabar terus. kalau dibandingkan dengan sabar Nabi, sabar kita nggak ada apa-apanya. kalau Rasulullah sudah sabarnya begitu luar biasanya. kalau kita mengaku umatnya beliau kenapa kita tidak sabar juga? mudah-mudahan kita bisa kebahagiaan ini tanpa ngecewain lagi. ada rasulullah yang sudah merindukan kita. beliau dilahirkan dengan begitu mulia untuk menunjukkan jalan kepada kita. Jangan kecewain lagi. jadikan laporan yang disampaikan oleh malaikat kepada nabi itu laporan yang baik.
Ketika kita melakukan ketaatan, yakin Allah sedang memperkenalkan kita kepada semua penduduk langit. Allah sampaikan ke penduduk langit "wahai penduduk langit, lihat ini hambaku sedang sabar"
QNA :
1. Ada sebuah majelis pengen ngadain Maulid tapi harus ngutang ke orang itu kalau engga Maulid ga terlaksana. Apakah Maulid tersebut tetap terus berjalan?
=> Sebenarnya untuk Maulid itu seperti memberikan hadiah kepada Rasulullah. kita hadiahkanlah betul-betul kepada Rasulullah SAW. kalau misalnya bukan dari orang itu majelis kita nggak bisa, kita harus ngutang sama orang itu , Coba kita minta sama Allah. jadi sarannya adalah Coba tanya sama Allah dengan cara istighfar, respon kita gimana tetap menerima atau menolak? kalau menerima hutang, kalau menolak majelis maulidnya tidak jalan. kita datang kepada Allah, kita laporkan apa yang terjadi atas diri kita dan maulid. tanya sama Allah, libatkan Allah. Siapa tahu Allah memberikan takdir terbaik yang nggak tahu seseorang tiba-tiba datang memberikan uang tanpa harus hutang.
2. Apakah kita dikatakan bersabar ketika diuji langsung menerima atau mengeluh dahulu tapi akhirnya menerima dan akhirnya bersabar karena pasrah?
=> Pertama kita boleh mengeluh, tapi coba ingat ketika Allah memberikan kita ujian itu untuk menghapuskan dosa kita. Kadang kita harus banyak berkomunikasi dengan hati kita. Banyakin sabar aja dulu, ganti kata ngeluh dengan tenang karena itu lebih baik daripada kita harus mengeluh.
3. Bagaimana dengan orang yang masih berbuat maksiat kepada Allah. Apa karena mereka memiliki sifat husnuzan dan sifat roja yang tinggi kepada Allah swt bahwa Allah itu maha pengampun lagi maha penyayang?
=> bukan sifat roja'nya yang tinggi tapi berangan-angan yang besar. disampaikan oleh Imam Haddad, mereka yang punya angan-angan yang besar itu yang selalu merasa aman ketika melakukan maksiat bahwa Allah itu maha pengampun, nah orang-orang seperti ini mereka justru nanti akan lebih banyak tabungan maksiatnya. karena "Oh Allah maha pengampun" terus maksiat tipis-tipis, Nah inilah di hari kiamat menjadi orang yang rugi karena dia selalu merasa aman, dia lupa bahwa angan-angan yang besar kadang membuat dia lupa atas batas waktu dia hidup di dunia saking besarnya angan-angan dia.
4. Sabar itu ada batasnya nggak sih Ustadzah? terkadang kita udah sangat sabar tapi tetep aja jadi hilang sabar itu.
=> Kata Ustadzah Halimah, sabar itu ada batasnya sampai mati. kalau kata Habib Ali Zainal Abidin Al Hamid, sabar nggak ada batasnya, tapi kenapa kadang kita hilang kesabaran? itu karena kita menciptakan batas. Jadi jika misalnya kita betul-betul sabar, Sebesar apapun ujiannya kita bisa menahan diri. tapi kenapa kita kadang belum bisa menahan diri? berarti kita masih menciptakan batas kata Habib Ali. hilangkan batas itu dengan meyakini bahwa Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar, jadi ketika batas sabar kita hampir hilang kita baca ayatnya.
5. Sabar atas angan-angan masa lalu yang menyakitkan kita.
=> Semakin besar angan-angan kita, semakin tidak baik. Solusinya adalah ikhlaskan. Karena lupa belum tentu ikhlas, tapi kalau ikhlas walaupun ada kita nggak harus lupa. karena Ikhlas itu nggak ada ujungnya, tapi kita bisa menerima. kalau kita mau lupain kita belum tentu menerima, tapi kalau misalnya kita ikhlas, ada ataupun tidak kita lupa ataupun ingat rasanya udah kosong itu ikhlas. Jadi ikhlaskan. ikhlaskan semua hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu yang menyakitkan. jadikan masa lalu itu pelajaran terbaik, boleh kita menengok sebentar gpp mau nengok ke belakang, tapi bukan untuk kembali.
Jadikan pelajaran masa lalu menyakitkan itu supaya kita bisa mengontrol diri, supaya diri kita terkendali, ikhlaskan, serahkan sama Allah, biarkan Allah yang menjadikan hati kita ikhlas.
Wallahua'lam bishowab.
Halal share dan di mohon untuk tidak menghilangkan sumber catatan, BaraakAllah Fiikum.
Salam cinta 💙
𝓜𝓽. 𝓓𝓪𝓻𝓾𝔃𝓩𝓪𝓱𝓻𝓪
Komentar
Posting Komentar