Dars Risalah Muawwanah 3 Juni 2023
Bersama : Ustadzah Dara Husaien
Waktu : 3 Juni 2023 / 19:30 WIB
-----
DARS RISALATUL MU'AWWANAH
Dikatakan di dalam hadits Nabi, tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, apabila dia berkata dia bohong, apabila dia berjanji dia mengingkari, dan apabila dia diberikan amanah maka dia berkhianat.
Dikatakan oleh Imam Haddad:
๐ *1. Bicara jujur dan Tidak mengumbar janji bila tidak bisa menepati*
Ngomong yang jujur terhadap apapun yang terjadi, karena dalam syair-syair Arab pun kita sering dengar "Katakanlah sebuah kejujuran walaupun itu pahit." karena memang bicara yang jujur itu akan menyakitkan di awal, tapi cukup di awalnya aja, kalau di akhir tidak. Tapi orang yang sebaliknya, mereka yang lebih memilih dusta dibandingkan berkata jujur maka di awalnya itu akan merasakan nikmatnya, tapi di akhirnya akan ada penyesalan dan akan kehilangan kepercayaan dari orang lain.
Kejujuran itu bukan berarti ga di filter sama sekali, melainkan kita pilih dan pilah kata-kata agar tidak menyakiti hati orang. Karena terkadang, ada orang karena saking jujurnya dia, kata-katanya itu nggak dipilih dengan kata-kata yang bagus, sehingga dapat menyakiti hati orang yang disampaikan kejujuran tersebut.
Dikatakan juga, ketika kita tidak sanggup untuk menepati janji kepada orang lain, maka jangan menjanjikan apapun terhadap orang tersebut. Jawab aja Insya Allah. Karena kalau kita jawab insya Allah berarti kita kembalikan itu kepada Allah. Intinya jika terjadi itu atas izin Allah, tapi kalau menurut Allah itu tidak baik setidaknya kita sudah melibatkan Allah di awal. Dan apapun yang terjadi setelahnya itu atas kehendak Allah. Sebaik-baiknya Janji adalah ketika kita berjanji kita berusaha semaksimal mungkin untuk menepati janji tersebut.
Orang-orang yang munafik akan sulit untuk masuk ke dalam surga tanpa hisab, karena salah satu syarat masuk surga tanpa hisab itu tanpa ada kemunafikan dalam dirinya. Maka jauhkanlah sifat munafik itu dari dalam diri kita kalau kita ingin masuk surga tanpa hisab. jika ada sedikit saja sifat kemunafikan itu dalam diri kita, tugas kita adalah bagaiamana cara kita kembali kepada Allah supaya sifat atau rasa munafik dalam diri kita itu hilang.
Oleh karena itu, kita diajarkan untuk melatih diri agar lebih jujur dan lebih hati-hati atas janji yang kita sampaikan, kalau menurut kita enggak mampu ya jangan kasih harapan terhadap orang lain. tapi kalau orang tersebut janji sama kita terus dia nggak menepatinya, maka biarkan, karena itu menjadi urusan dia sama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita latih diri kita untuk memiliki ketulusan hati, sehingga kalau kita dibohongi atau janji kita ga di tepati, kita tetap husnudzon sama Allah.
๐ *2. Menghindari perdebatan atau berantem*
dianjurkan atas kamu untuk menghindari perdebatan, menghindari berantem-beranteman. karena dua hal ini akan menjadikan hati kita berkobar panas. orang yang suka debat, orang yang suka marah atau berantem itu hatinya panas terus. Dipancing sedikit marah, dipancing sedikit keluar semua kata-katanya. Pokoknya dia tidak ingin kalah dalam berargumen. Dan orang-orang yang suka berdebat, yang suka berantem, yang suka cekcok itu bukan hanya bikin hatinya menjadi panas sendiri, mereka juga memperbanyak musuh. Itu Kata Imam Haddad.
Kalau misalnya kita ketemu sama orang yang suka debat, suka berantem, apa yang kita lakukan? kalau yang dia debatkan itu betul, ikutin, nggak usah ikut debat. Tapi kalau itu sesuatu yang bathil atau bukan sesuatu yang benar, kata Imam Haddad kita tinggal diam, karena kita nggak bisa nasehatin dia ketika dia marah. Karena sulit menasehati orang yang sedang marah. Jadi diamkan dulu, kalau sudah tenang baru nasehatin. Jika dinasehatin saat lagi marah, maka akan berkobaran dalam dadanya, dan itu berbahaya untuk hati dia dan untuk hati kita. Tinggalkanlah atau menjauhlah dari orang-orang yang jahil.
Hati-hati, terkadang kita ngikutin debat itu bukan karena kita ingin membela kebenaran, tapi karena nafsu di dalam diri kita. kalau saat menasehati dia kita merasa panas maka artinya yang keluar dari mulut kita adalah nafsu. Jadi kalau diajak berantem atau berdebat kita diem aja.
๐ *3. Engga bercanda berlebihan*
Diajarkan oleh Imam Haddad, untuk kita meninggalkan canda gurau atau bercanda yang berlebihan. jangan terlalu sering bercanda apalagi candaan itu bohong. Tapi kalau ente mau bercanda itu untuk dengan niat menenangkan hati sesama muslim maka boleh, asal ga berlebihan.
Kata Nabi, jangan kamu mencela saudara kamu dan jangan juga bercanda berlebihan, jangan bersenda gurau dengan berlebihan, dan jangan berjanji kalau nggak bisa untuk menepati. Nah itu disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Bicara jujur, jangan obral janji kalau ga bisa nepatin, jangan berdebat, jangan bercanda berlebihan.
Emang, Rasulullah tidak pernah bercanda? pernah. Tapi apakah ada sesuatu yang bathil dari candaan Rasulullah? tidak.
๐ *4. Menghormati orang lain apalagi para ulama/orang sholeh*
Disampaikan oleh Imam Haddad, untuk menghormati orang lain, memuliakan sesama muslim, apalagi misalnya dia lebih Afdhol daripada kita, seperti ulama, salafuna sholeh, para Syarifah, atau orang-orang yang Islamnya kuat di dalam dirinya. Tugas kita sesama muslim adalah memuliakan mereka.
siapapun orangnya, tugas kita dalam menghormati mereka. karena kita nggak pernah tahu nih bisa jadi orang yang lebih kecil terus dia lebih sedikit dosanya daripada kita, dan yang lebih tua amalannya lebih banyak daripada kita. yang seumuran kita nggak tahu diri sendirian gimana munajat sama Allah?
Jadi tugas kita sesama muslim adalah saling menghormati dan saling menjadikan diri kita nggak pernah merasa lebih baik daripada orang lain.
๐ *5. Tidak menakut-nakuti atau memandang dengan pandangan rendah*
Ketika kita merasa diri kita lebih daripada diri orang lain, segera tahan, segera beristighfar, segera singkirkan. Karena itu adalah kesombongan yang dapat menyingkirkan diri kita. kita harus mewaspadai itu.
Kata Imam Haddad juga dianjurkan buat kamu untuk memperlakukan muslim itu dengan sebaik-baiknya, dan tidak membuat mereka takut. kata Imam Haddad tidak membuat mereka takut atau bahkan sampai mengejek atau merasa lebih baik atau memandang mereka dengan pandangan merendahkan.
Kalau kita yang dipandang begitu, biarin aja, tugas kita adalah bagaimana caranya kita untuk menjaga hati kita. biarkan itu urusan dia sama Allah, yang penting kita tidak begitu, dan urusan kita adalah memperbaiki diri kita yang akan menjadi tanggungan di hadapan Allah nantinya.
Dalam hadits Nabi SAW dikatakan bahwa dia adalah orang yang jahat ketika dia mencela saudaranya sesama muslim. itu digolongkan sebagai orang-orang yang jahat atau orang-orang yang tidak mempunyai akhlak yang baik.
Upaya kita adalah tidak mencela sesama muslim atau tidak mengejek mereka dan untuk tidak memandang mereka dengan pandangan yang merendahkan, karena kalau itu terjadi berarti kita memilih untuk golongan yang disebut sebagai golongan orang-orang yang jahat atau golongan orang yang tidak berakhlak baik.
๐ *6. Tawadhu dan tidak takabbur*
Dikatakan oleh Imam Haddad untuk tawadhu. karena tawadu itu adalah bagian dari akhlaknya orang orang yang beriman. kalau kita ingin lihat orang-orang yang beriman kita akan lihat ketahuan dalam diri orang tersebut. semua itu bagian daripada akhlaknya orang-orang yang beriman. bukan orang muslimin kata Imam Haddad, tapi orang beriman, karena untuk jadi orang beriman itu tidak mudah.
Dikatakan lagi sama Imam Haddad untuk tidak takabur atau sombong. karena Allah tidak menyukai orang yang sombong.
Tawadhu itu tidak merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. orang yang telah tawadhu itu akan Allah angkat derajatnya. dan sebaliknya, orang yang takabur atau orang yang sombong itu akan diletakkan di tempat yang paling bawah. dia merasa dirinya tinggi, padahal Allah itu sedang melemparkan dia ke tempat yang paling bawah, yang paling dasar, bahkan tempat yang tidak ada ujungnya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga mengingatkan kepada kita bahwa tidak akan dimasukkan ke dalam surga orang yang memiliki kesombongan walau hanya sebesar biji zarroh di dalam hatinya. Biji zarroh itu kecil, tapi kesombongan yang sedikit itu punya imbas yang sangat besar dengan diri kita. Bahayanya adalah tidak akan dimasukkan ke dalam surga.
Dan di hadits Nabi yang lain, orang yang sombong itu menolak Kebaikan. dia nggak mau kebaikan orang-orang. Orang yang sombong itu selalu merasa dirinya udah baik, jadi ketika diingatkan dia menolak.
Ciri-ciri orang yang sombong itu ketika dia melihat dirinya dengan pandangan yang baik seakan-akan dirinya sudah solehah, sudah lebih baik daripada orang lain. Tapi ketika dia memandang orang lain, dia mengecilkan orang lain. Hal-hal seperti ini masuk ke dalam golongan orang yang sombong.
Semulia apapun seseorang, sebanyak apapun ilmunya, sebanyak apapun amalannya, kalau di dalam hatinya ada rasa dia merasa dirinya lebih mulia dibandingkan dengan orang lain, dia memandang orang lain tersebut ada di bawah, dia itu bagian dari orang-orang yang sombong. kalau ada yang begitu, segera inget hadits Nabi, kalau orang yang sombong nggak akan masuk ke dalam surga.
Allah memberikan perbedaan antara orang-orang yang tawadhu dan orang yang sombong. dikatakan Imma Haddad, tanda-tanda orang yang tawadhu itu: suka sendiri.
menyukai kesendirian di sini dia lebih suka khlawat, khalwat di sini bukan engga ketemu orang, engga ngobrol sama orang, tapi dia tawadhu, dia juga nggak membicarakan orang lain, dia nggak suka dikenal orang banyak. Orang tawadhu itu lebih suka sendiri walaupun di keramaian, juga dia tidak merasa dirinya lebih baik atau merasa dirinya lebih mulia daripada orang lain. ketika ada orang datang kepada dia mengingatkan sesuatu yang benar dia menerimanya.bukan melihat siapa orang itu, tapi apa yang disampaikan oleh yang menyampaikan itu. Orang tawadhu suka duduk dengan orang faqir. Kalau orang yang sombong itu kebalikannya.
Wallahua'lam bishowab.
Komentar
Posting Komentar