Dars Risalah Muawwanah 27 Mei 2023

 Bersama: Ustadzah Dara Husaien

Waktu: Sabtu, 27 Mei 2023 / 19.30 WIB

-----


*DARS RISALATUL MUAWANAH*

Imam Al-Haddad mengatakan, "Semisalnya ada seseorang yang memberikan engkau suatu pujian, dimana pujian itu memang sesuai dengan apa yang ada pada dirimu maka bacalah,


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَظْهَرَ الْجَمِيْلَ وَسَتَرَ الْقَبِيْحَ


'Aku bersyukur kepada Allah yang menutup kejelekan dan membuka kebaikan'


Apabila pujian itu tidak sesuai dengan keadaanmu, maka berdoalah dengan doa yg biasa dilakukan oleh kaum salaf.


اَللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ وَاغْفِرْلِيْ مَالَا يَعْلَمُوْنَ وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ.


'Ya Allah, janganlah Engkau siksa aku sebab perkataan mereka. Ampunilah dosaku, karena sesuatu yg tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik dari yg mereka sangka.'"


Imam Al-Haddad pula mengatakan, "Maka janganlah kamu memuji atas orang lain apabila kamu mengetahui bahwa pujian tersebut tak akan menambah ketaatan yang ada padanya, jangan memuji seseorang kecuali yang membuat ia lebih bersemangat dalam melakukan ketaatan, jangan memuji seseorang yang justru membuat dirinya menjadi merasa bangga dan tinggi hati."


Beliau kembali mengatakan bahwasanya ketika kita ingin menegur seseorang hendaknya ajak orang tersebut ditempat yang sepi dan tenang, bicara empat mata, tanpa maksud mempermalukannya, kita bicarakan baik-baik dengan ucapan yang lembut dan santun. Berikan orang tersebut pemahaman terlebih dahulu jangan langsung bicara secara inti yang justru akan menyakiti, sungguh orang yang akalnya sempurna itu bicara dengan isyarat, jika dengan isyarat orang tersebut belum mengerti maka boleh diberitahukan langsung kesalahannya, tapi beritahu dengan cara lembut tanpa menghakimi.


Dan ketika kita mengingatkannya orang tersebut bertanya tentang siapa yang memberitahu kesalahannya tersebut, maka jangan beri tahu. Karena boleh jadi akan menyebabkan pertengkaran antara orang yang hendak kita nasehati dengan orang yang memberitahu kita akan kesalahannya. Jangan libatkan siapapun, khawatir itu menjadi adu domba. Lalu hendaknya ketika orang tersebut mampu berubah setelah kita nasehati jangan lupa untuk mengucap 'Alhamdulillah' dengan maksud bersyukur atas pertolongan Allah yang telah memudahkan nasehat tersebut masuk kedalam hatinya, hal ini dilakukan untuk menghindari rasa bangga yang akan menimbulkan penyakit hati yang baru lagi dalam diri kita.


Jika saat orang yang nasehati bukan menerima dan berubah namun justru sebaliknya, maka hendaknya serahkan kesalahan tersebut kepada dirimu sendiri. Katakan kepada diri kita, "Wahai nafsu yang ada pada kejahatan sungguh penyebab tidak diterimanya nasehat adalah dirimu sendiri," katakan bahwasanya seseorang itu tidak berubah karena dirimu, karena ada maksud tersembunyi yang jahat didalam hatimu. Hal ini guna melatih hati agar tidak merasa memiliki sesuatu apapun, semua hanyalah milik Allah, termasuk soal lisan yang mampu kita keluarkan untuk menasehati seseorang, kita hanyalah sebatas perantara. 


Dikatakan pula oleh Imam Al-Haddad bahwasanya apabila kita sudah dipercayakan untuk menasehati oleh orang-orang maka janganlah merasa bangga terlalu berlebihan, berterimakasih lah terlebih dahulu kepada Allah, sebab setiap sesuatu itu karena Allah yang memberikan pertolongan-Nya. Karena sesungguhnya kita tak akan bisa melakukan apa-apa jika bukan karena Allah, terkadang bahkan kita merasa tinggi hati, merasa segala sesuatu yang kita raih hanya karena usaha kita tanpa ada campur tangan Allah. 


Selain dua hal ini, hendaknya kita amanah, bertanggung jawab dan tidak berkhianat. Sebagaimana Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam bersabda, "Tidak sempurna iman seseorang yang tidak amanah."


Sungguh orang yang selalu berdoa agar tidak kufur terhadap nikmat Allah, pun orang yang menyambung silaturahmi dan terakhir orang yang diberikan amanah berdoa agar tidak khianat maka doa-doa mereka kelak akan tergantung diarsynya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sungguh hendaknya kita melindungi jasad kita dari segala perbuatan yang dibenci oleh Allah, sebab jasad pun merupakan sesuatu yang Allah amanahkan, jangan merasa bangga dengan umur yang panjang, karena sejatinya semakin panjang umur kita semakin lama pula kita dimintai pertanggung jawaban. Maka berdoalah kepada Allah untuk memberikan keberkahan pada umurmu. 


Pertanyaan :

1. Bagaimana jikalau ada seseorang yang memberikan amanah kita namun kita merasa tidak enak untuk menolaknya?

2. Jika kita sudah menasehati seorang teman secara baik, namun tetap tidak berubah, bolehkah dipaksa?

3. Apakah kita harus mengqodho shalat yang tertinggal?

4. Bagaimana cara agar hati kita ridho terhadap seseorang yang dengan terang-terangan tidak menyukai kita bahkan pernah menjelek-jelekkan kita?

5. Bagaimanakah jika kita bertemu orang yang senang sekali lalai dengan amanah yang diberikan, bahkan sampai mengadu domba dan berkata tidak benar?

6. Apa yang membuat kita tidak mampu amanah, semisal ketika kita diberi amanah, kita sudah sangat menjaga amanah tersebut namun ditengah jalan ada saja hal-hal yang membuat kita menjadi tidak amanah?

7. Apakah itikaf itu hanya saat bulan Ramadhan saja?


Jawaban :

1. Maka hendaknya kita harus betul-betul menunaikan amanah tersebut, ucap 'bismillah' dan minta kepada Allah kemudahan, sebab tidaklah seseorang meminta sesuatu atau memberikan sesuatu kecuali Allah yang menginginkannya. Seperti halnya ketika kita merasa tidak enak untuk menolak amanah tersebut, mintalah bantuan, mintalah kekuatan hanya kepada Allah. Sungguh Allah bisa mewujudkan segala hal.

2. Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam mengajarkan hendaknya kita menasehati seseorang pertama kali dengan lisan jika masih gagal maka lakukan dengan tangan, yakni perbuatan tunjukkan kepadanya, jika masih saja tidak berhasil boleh dipaksa bukan berarti menyakiti namun belum tentu hal seperti ini mampu berhasil sebab kebanyakan orang yang dipaksa justru semakin menghindar bahkan sampai menyerah untuk memperbaiki diri, maka jika seperti ini ada cara terakhir yakni mendoakan orang tersebut agar Allah ketuk hatinya. 

3. Jika kita memang paham dengan ilmunya dan paham pula hukumnya maka qodho shalat yang tertinggal itu dengan niat mengqodho shalat. Dan apabila kita lupa jumlah shalat yang kita tinggal maka cukup dikira-kira, semisal kita yakini kita meninggalkan shalat selama sebulan maka berikan kira-kira yang lebih yakni sebulan setengah.

4. Ingatlah bahwa ketika seseorang tidak menyukai kita secara terang-terangan, Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam pun pernah mengalami hal yang sama, bahkan bukan hanya satu orang saja melainkan satu kota, ribuan orang. Perbanyak shalawat dan berdoalah kepada Allah, dan apabila kita dijelek-jelekkan oleh orang lain hendaknya berdoa kepada Allah untuk menguatkan hati, langsung ucapkan shalawat guna ittiba' kepada Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam. Yakinkan hati kita, bahwasanya kita memiliki qudw sosok yang bisa kita contoh.

5. Apabila kita sanggup dan mampu maka hendaknya nasehati, sampaikan dengan cses yang baik, namun jika tidak mampu boleh meminta tolong orang lain yang sidiq, yang benar dengan tujuan supaya orang tersebut tidak terus-menerus berdusta, tidak terus-menerus mengadu domba.

6. Ketika semisal kita meminjam suatu buku, namun saat kita hendak mengembalikan terjadi sesuatu yang diluar perkira yakni jatuh buku tersebut disebabkan sebelumnya kita merasa bangga telah mampu menjaga buku tersebut, maka inilah yang disebut ujian dari Allah tersebab kesombongan yang terbersit, lalu yang harus dilakukan ialah mengakui dengan jujur kesalahan yang kita lakukan.

7. Tidak, bahkan dianjurkan ketika kita memasuki masjid dibulan apapun niatkan untuk melakukan itikaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dars Risalah Muawanah - Ustadzah Dara Husaien

Dars Risalah Muawwanah 11 Mei 2024

Dars Risalah Muawwanah 2 Desember 2023