Dars Risalah Muawwanah 20 Mei 2023

Bersama : Ustadzah Dara Husaien 

Waktu : Sabtu, 20 Mei 2023 / 19:30

---

Dikatakan dalam kitab yang disampaikan Imam Haddad, kata Imam Haddad kalau Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan nasehat pada kita. 


pada malam hari ini, kita membahas masalah hati. Nah kebetulan membahas masalah hati jadi seperti biasa ditanyakan dulu... Bagaimana kabar hatinya ?setelah lewat bulan Ramadan udah hampir berlalu belum Syawal Kalau nggak salah ini udah 29 Syawal ya kan, nah hatinya gimana keadaannya? Apakah masuknya bulan Ramadan semakin membuat hati kita bergantung sama Allah makin kenal sama Rasul? atau memasuki bulan Syawal kita semakin Istiqomah atas apa yang sudah kita usahakan di bulan Ramadan kemarin apa Justru semakin menjauh? kira-kira coba tanya hatinya, coba diraba-raba, hatinya yang bagian di dalam coba kita tanyakan. kita tanya pada hati kita, sudah sedekat apa? atau justru sebaliknya?


Coba tanya terus pada hati kita. Nah makanya di sini di Fashl ini disampaikan, hati yang tulus kata Imam Haddad, dianjurkan kepada kamu untuk memiliki hati yang tulus kepada semua orang yang muslim. disampaikan oleh Imam Haddad, kayak gimana kita untuk selalu menunjukkan ketulusan hati kita terhadap semua orang yang ada di sekitar kita tanpa ada maksud untuk menyembunyikan sesuatu dari mereka gitu. menyembunyikan di sini artinya sesuatu yang ada di dalam hatinya kita, jadi kita tunjukin semua yang baik gitu, menunjukkan sesuatu yang baik itu pun diiringi di dalam hati yang baik juga, bukan cuman nunjukin yang baik di hadapan orang lain tapi sebenarnya hati kita nggak baik. Bukan gitu kata Imam Haddad. 


seperti mana hati ente berusaha untuk baik, maka baiklah juga kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. "Oh kalau ada yang suka sama orang, yang Ana suka, yang sama teman-teman yang sefrekuensi, enak ana nunjukin sesuatu yang baik. tapi kalau Ana nggak suka sama orang, yang ana baik di depannya tapi di belakangnya hati Ana nggak baik sama dia. 


Nah di sini dikatakan hati yang tulus tuh dia kayak gimana pun dzahirnya, batinnya pun seperti itu. kita diajarin sama Allah untuk ittiba' sama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Adakah Rasulullah nunjukin atau ngajarin kepada kita hati yang nggak tulus terhadap orang? Apakah Rasulullah pernah mengajarkan kebencian di dalam hatinya kita umat beliau? kan nggak pernah. 


Nah makanya kata Imam Haddad, tuluslah kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, apalagi dia adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul. karena agama itu adalah bagian dari nasehat. bagian daripada ketulusan kita ada di dalam sebuah agama, kita ada di dalam sebuah agama di mana kita diajarkan ketulusan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. makanya kayak gimana caranya kita berusaha nih di dalam hati kita yang sekarang mungkin misalnya ada gedeg sama orang, atau ada yang ganjel sama orang, coba cari cari, semua orang pasti ada baiknya, dan kita pasti ada salahnya. kalau misalnya kita gedeg sama orang karena ada kesalahan yang dia perbuat, sama dengan kita, kita lihat Apakah kita sudah berlaku baik terus sama orang lain? kan belum tentu. 


Nah kalau misalnya kita udah mulai bisa mengerti itu, kita udah bisa membiasakan itu di dalam hatinya kita yg merasa gedeg sama orang, maka rasa jengkel sama orang itu insya Allah bisa teratasi. Tapi kalau misalnya kita biarkan hati kita segedeg-gedegnya sama dia, nggak akan selesai. 


Rasul ngajarin kita untuk bagaimana kita ke orang tulus sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, bagaimana kita lihat di kisah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, sebenci apapun orang-orang orang kafir sama Rasul saat itu, tapi ketika ada salah satu di antara mereka yang belum pernah ketemu sama Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, dan ketemu sama Rasul, dan enggak tahu kalau itu Rasul, dan rasul itu berbuat baik kepada orang itu, sikap baiknya, tulusnya itu dari dalam hati Rasulullah dan itu membuat orang yang enggak suka sama Rasulullah jadi mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang menolong mereka, meskipun mereka enggak tahu kalau yang nolongnya itu Rasulullah SAW. 


nah itu yang disebut kata Imam Haddad, keluarkan Ketulusan dalam hati ente. bukan untuk disukai semua orang, tapi kita mau ittiba' dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. kita ingin menunjukkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala kalau kita ingin menjadi sebaik-baik hamba-Nya. 


Dikatakan juga oleh Imam Haddad, bahwa bersikap tulus kepada sesama muslim baik saat dia ada atau saat dia nggak ada, kita tetap tulus sama orang itu. kita tetap baik sama mereka ada atau tidaknya orang itu. Nah itu yang disebut dengan tulus. bukan ketika di depan dia kita baik di belakangnya kita gibahin dia. 


Nah di sini ditanyakan ketulusan hati kita, karena emang kalau kita tulus sama seseorang, di depan ataupun di belakang seperti apa kita seperti itu pula yang terjadi. misalnya ada sesuatu yang kita nggak suka dari orang ini, kasih tahu dia dengan sebaik-baik kata-kata kita, bukan kita diam di hadapan mereka lalu ketika di belakang kita ngomongin mereka. ini adalah salah kata Imam Hadad yaitu itu bukan daripada ketulusan hati. 


kalau memang kita nggak cocok dari awal, sampaikan. sampaikan tanpa menyakiti dia. tapi kalaupun Ketika kita menyampaikan itu harus menyakiti dia, itu Ahsan di hadapan dia daripada di belakang dia. karena dikatakan seseorang itu tidak akan menasehati atau mengingatkan seseorang kecuali karena Allah titipkan hatinya rasa cinta. rasa cinta di sini adalah diteteskan oleh Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam. kalau ingat Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam kan kita bawaannya senang, kita bawaannya tenang, bawaannya adem, karena ada ketulusan yang Rasulullah sampaikan di dalam dakwahnya beliau, ada ikhlasnya, ada Ridho, ada cintanya di dalam itu. makanya ketika kita mendengar nama Nabi Muhammad aja atau ketika mendengar nama Rasulullah aja, kayak ada sesuatu di dalam hati kita. Nah karena di situ ada nasihat, ada ketulusan. 


dan dikatakan, kita tidak akan mencintai seseorang itu dan kita tidak akan mengingatkan seseorang itu kecuali karena kita mencintai dia dan Rasulullah melakukan itu. Rasulullah mengingatkan sahabat dan di mana Rasulullah itu menyampaikan kepada tabiin, tabiin menyampaikan kepada tabiut tabiin sampai kepada kita, secara tidak langsung Rasulullah yang mengingatkan. Karena itu adalah bagian dari cintanya rasul kepada kita. Nah kita yang diingatkan nih menerima itu atau enggak pertanyaannya kan gitu. 


kalau kita dikasih nasehat nih kadang kita milih siapa yang memberikan nasehat itu kepada kita, padahal sebenarnya sama aja. puncak dari nasehat yang disampaikan kepada kita itu kan dari Rasul, kita enggak melihat Siapa yang nyampein kepada kita tapi kita melihat Siapa yang punya pesan itu, yang punya pesan itu adalah Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam. cintanya Rasulullah yang disampaikan kepada kita. kalau kita sulit untuk menerima seseorang, menerima orang menasehati kita, meskipun kita ngerasa dia lebih kecil dari kita, kan ada beberapa orang yang "oh pintaran Ana daripada dia, nih dia nasehatin ini Ana , ana enggak terima ini" tapi yang dia sampaikan itu betul. Nah kalau ketika itu sulit kita menerimanya, ingat.. dia menyampaikan itu bukan dari dirinya, tapi itu dari cinta yang Rasul sampaikan lewat dia. Akan lebih mudah kita untuk mendapatkan ketulusan itu. 


nah sekarang bagaimana kita melatih Ketulusan dalam hati kita ini ? Yang kita harapkan adalah bagaimana ketulusan itu membuktikan kalau kita dekat dengan Allah dan Rasul. Nah sekarang coba lagi tanyakan sama hati kita, "selama ini ada nggak yang kita nggak suka di sekitar kita ini?" kalau ada kenapa? "pernah nggak dia buat baik sama ente? pernah sih, habis itu dia buat jahat lagi, atau dia nggak pernah baik sama ana, tapi pernah nggak kita lihat dia berbuat baik terhadap orang lain? nggak pernah. Dia salat nggak? dia salat sih kadang-kadang, nah salatnya dia walaupun kadang-kadang itu bagian dari kebaikan yang tetap Allah berikan kepada dia." itu yang kita ambil untuk menjaga kita punya rasa tulus di dalam hatinya. 


Hati itu kecil tapi membahayakan. jadi sedikit aja dibawa kepada sesuatu yang menyimpang, rusak. tapi kalau kita berusaha untuk menata dia, kita jaga dia, kita kontrol dia, kita pertahankan dia, walaupun banyak perbannya, walaupun banyak kena goresan, walaupun ibaratnya banyak Hansaplast yang nempelin hati kita, setidaknya dia tidak menyukai hal yang menyimpang itu jauh lebih baik. nah ketika kita berusaha untuk memiliki hati yang tulus ini. walaupun sebenarnya ada bisikan-bisikan. 


Meskipun kita sudah usaha berperang sama hati kita sendiri, hati dan pikiran kita berperang, entah baik atau tidak untuk seseorang, tapi kita percaya kalau Allah nggak pernah meninggalkan kita, dan kita tetap menjaga hati kita agar tetap tulus. itu jadi tugas kita sebagai seorang muslim kita jaga ketulusan hati kita kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, dan kita jaga ketulusan hati kita ini untuk Allah dan juga Rasul. karena termasuk orang yang munafik ketika dia di depannya baik, tapi di belakangnya engga. sedangkan kita tahu bahwa orang-orang munafik ini sulit dimasukkan ke dalam surga. 


dikatakan dalam riwayat yang lain, termasuk orang munafik yang baik di depan tapi di belakang beda. Nah jadi bagaimana kita menghindari kemunafikan itu, juga sebenarnya bagaimana kita tetap berbuat baik kepada orang itu, di depan ataupun di belakang dia.


selanjutnya, kalau tadi kita membicarakan tentang ketulusan hati, ketulusan hati itu dikatakan dia itu berseberangan atau lawannya adalah hasud, yaitu hasud terhadap orang-orang yang muslim atas apa yang Allah berikan kepada mereka daripada kenikmatan, daripada Fadhilah Fadhilah yang Allah berikan. dan di sini dikatakan bahwa pondasinya adalah dia ragu atau kayak nggak seneng gitu, nggak suka atas nikmat yang Allah berikan terhadap hambanya. 


Yang membedakan antara nikmat hamba itu dengan apa yang Allah berikan kepada kita, entah itu di dalam agama ataupun terhadap dunia, itu pondasinya. ketidaksukaan atau rasa ragu akan nikmat Allah yang Allah berikan, maka saat itu ketika kita melihat Allah kasih nikmat kepada hamba yang lain gitu, Tapi ketika ada sedikit aja rasa nggak seneng, atau kayak ragu-ragu, "kok Allah cuman kasih ana segini ya, tapi Allah kasih dia lebih" Nah itu ada keraguan di dalam hatinya, berarti ketika rasa itu hadir, itu asalnya atau pondasinya sifat hasud di dalam hati seseorang. 


dan di sini dikatakan bahwa dia merasa tidak adil dengan nikmat yang Allah berikan terhadap dirinya yang dia rasa nggak adil, "Oh Allah nggak adil ini, nikmat yang Allah berikan ke ana segini doang" Nah, ketika kita tidak merasakan ketidakadilan dengan apa yang Allah berikan, itu merupakan pondasi , eh bukan pondasi lagi, tapi itu sudah masuk ke sifat hasud. 


Kalau misalnya dia senang dengan kesalahan saudaranya, itu ciri-ciri orang yang hasud. terus dia juga seneng kalau saudaranya ini dibuka aibnya, terus dia merasa sempit atau dia nggak suka gitu dengan nikmat yang dimiliki oleh saudaranya, itu ciri-ciri orang hasud.  


Misalnya ada org yg merasa tidak senang dengan nikmat yang Allah berikan kepada saudaranya, ketika dia melihat saudaranya menampakkan sebuah faedah-faedah ilmu, maka dia akan menyampaikan apa yang disampaikan saudaranya itu, tapi mengurangi faedahnya itu. dia tidak menyampaikan dengan sempurna. Jadi orang yang mendengar dari dia seakan-akan faedah yang disampaikan oleh saudaranya itu itu salah ,itu kurang. nah senang dia kalau kayak gitu. Atau Bagaimana caranya dia bisa menyalahkan atau menyudutkan saudaranya, Nah itu ciri-ciri orang yang hasud. 


dampaknya apa? Dampak orang yang hasud ini adalah hatinya gelisah. orang yang hasud ini bukan hanya dimakan atau dihabiskan kebaikan yang sudah dia susun, yang sudah dia lakukan, yang sudah diamalkan, tapi hatinya juga gelisah, dia kesulitan untuk bahagia, dia juga susah diterima, atau susah menerima orang-orang yang ada di sekitarnya, dia juga terus mudah bagi dia untuk melakukan suatu kemaksiatan, dan yang paling mengerikan adalah Allah akan mematikan dia punya hati dan menghinakan dirinya di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 


Bagaimana kalau kita mencintai seseorang nih, tapi ternyata orang yang kita cintai itu menghinakan kita, terhina kita di hadapan orang yang kita cintai itu, Apakah kita masih punya muka untuk bisa muncul di hadapan orang yang kita cintai? kan enggak. nah dikatakan ini adalah dampak dari orang yang hasud. yang paling bahaya adalah dimatikan hatinya dan dihinakan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas dirinya sendiri, karena dia tidak menerima atau tidak dia merasa Allah itu tidak adil kepada dia. 


nah kita mengaku kita beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. kalau kita masih mengaku beriman sama Allah, apapun nikmat yang Allah kasih sama kita, sekecil apapun, kita akan terima..Habib Abdullah Bin Hasan bin Thohir bahkan menurut beliau bahwa ujian itu adalah nikmat yang Allah berikan kepada beliau. kalau enggak ada ujian, kalau enggak ada cobaan, kayak ada yang kurang gitu nikmat yang Allah kasih. Jadi bagaimana ketika ujian itu dihadapkan kepada kita, kita melihat semua orang dapat ini nikmat di sekitar kita, ya cuman kita doang yang mendapatkan ujian. misalnya cuman kita doang yang mendapatkan cobaan dari Allah, kayaknya bala'nya itu enggak berhenti-berhenti, turun kepada kita, coba kita lihat lagi hadits Nabi, dikatakan bahwa tidaklah Allah menguji seorang hambanya kecuali Allah ingin menjadikan orang itu baik. maka tidakkah rasa sakit orang yang tertusuk duri sedikit sakitnya. 


Nah Allah ingin hapus dosa dia sebagaimana Allah turunkan ujian, sebagaimana Allah Turunkan dia musibah yang besar kecuali karena Allah ingin kasih tahu kalau ente adalah orang yang Allah pilih gitu, seakan-akan Allah pengin bilang "hambaKu, dari sekian hambaJu yang aku beri nikmat, kamu yang aku pilih. karena aku ingin mendengar suaramu." 


kata Allah "datang kepadaKu, bilang ya Allah ujiannya Masya Allah banget." senang Allah lihatnya. tapi misalnya kita datang ke Allah, semakin kita cerita sama Allah, semakin kita berkeluh kesah sama Allah, semakin besar ujiannya, semakin besar bala'nya yang Allah turunkan, jangan pernah pergi. terus saja datang. karena Allah akan terus melihat kita. 


tapi kalau kita semakin menjauh ketika Allah turunkan ujian, ketika Allah turunkan kita cobaan, kita semakin menjauh, Nah di sini iman kita dipertanyakan. percaya enggak kita sama Allah? kayak gitu kan. percayakah kita sama takdirnya Allah?percaya enggak kita sama nikmatnya Allah? karena nikmat yang Allah berikan itu kan beda-beda ya.


dikatakan di sini, orang-orang yang hasud itu dia seperti mengucapkan kepada Allah "ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau telah menetapkan nikmat bukan kepada tempatnya" nah itu orang-orang yang hasad itu. ketika Allah kasih dia ujian, terus kasih nikmat kepada orang lain, terus orang ini lihat orang itu mendapatkan kenikmatan sedangkan dirinya diturunkan bala' sama Allah, terus dia bilang "ya Allah wahai Tuhanku, Sesungguhnya Engkau salah memberikan nikmat kok ke dia, kok bukan ke saya, bukan pada tempatnya, bukan ke di, ke saya seharusnya nikmat itu, saya yang berusaha, saya yang kerja dari awal sampai akhir, kok dia yang dapat nikmatnya, kok bukan saya." nah ketika itu terucap dari lisan seorang hamba maka hasud itu mulai mendasar dalam hatinya. nah takutnya Kalau diteruskan justru akan mematikan hatinya, sulit bagi dia untuk menerima apapun yang Allah berikan. 


dikatakan oleh Imam Haddad, tulusin dulu hatinya, kalau hati kita udah tulus ke semua orang, maka hasud itu akan hilang. kita nggak akan pernah terbiasa sama hasud karena kita kebiasaan dengan tulus. Tapi kalau dari awal kita sudah tidak membiasakan hati kita untuk tulus kepada orang lain, maka hasud itu akan mudah datang dan masuk ke dalam hatinya seorang hamba. 


Nah kalau orang-orang yang kita bilang "ya Tuhanku, Engkau lebih tahu nikmat yang mana yang ingin engkau berikan kepada hamba, dan aku berserah kepadamu dan aku meminta yang terbaik kepadamu ya Allah, dan Kalau boleh aku ingin seperti dia dan bantu aku ya Allah." nah bedakan sama hasud. Kalau kayak gini ya boleh. 


Kita ini perempuan, hati kita ini nggak bisa dipancing, sedikit meletup-meletup sudah dia. nah kita yang tahu bagaimana kita punya kapasitas di dalam hatinya kita, dan bagaimana kita berusaha untuk terus jaga nih hatinya kita, biar dia nggak kebakar ketika ada sesuatu yang memancing kita untuk hasud. 


Saat mulai ada keraguan di hati kita, ketika Allah memberi nikmat terhadap orang yang lebih dibandingkan kita, ingat lagi.. "Oh iya Allah nggak ngasih sekarang mungkin Allah ngasih nanti yang lebih daripada ini, bismillah rezekinya dia sekarang dan rezekinya ana bukan sekarang." ini kan nikmat. 


Ada banyak nikmat, nikmat melihat, nikmat bernafas, tapi misalnya "ana susah sama orang, dia salatnya jarang, lisannya sering nyakitin orang, tapi sama Allah dikasih hadiah umroh. Nah, ana udah berusaha ikut kajian, ikut majelis, mendekatkan diri kepada Allah, tapi enggak ada tuh hadiah-hadiah yang kayak begitu sampai diundang ke rumah Allah. Ya Allah kok begitu sih sama ana," nah ketika kalimat itu keluar dari lisan kita, ataupun terbersit aja di hati kita seperti itu, maka itu menunjukkan bahwa ada hasud di hati kita. 


kalau kita gitu ketika melihat orang "Oh iya ya mungkin selama ini yang terlihat seperti ini, tapi orang enggak tahu dia sunyinya kayak gimana. kita enggak tahu hubungan dia sama Allah itu seperti apa enggak tahu kalau dia sendiri yang dia lakuin"


Sebenarnya hati kita itu dia bisa diajak bicara kok, dia bisa ditenangkan, ketika dia mulai ingin membelokkan berbelok arah, bagaimana kita ajak berbicara untuk kembali ke jalan yang benar. ngobrol dari hati ke hati, ini yang disebut dengan hati bicara. 


coba, seberapa sering kita biarkan hati kita melakukan kesalahan yang didukung oleh hati kita sendiri? coba tanya, lebih banyak didukung atau ditahan saat kita mau melakukan maksiat? Karena hati ke hati itu jauh lebih mengenal daripada pikiran dan hati. kita bicara hati dan hati ini kayak ada sesuatu yang menahan dia. 


jadi dua ini aja malam ini yang coba kita istiqomahin dalam dirinya kita dimulai dari sekarang. Yaitu gimana kita tulus ke orang dan gimana kita menjaga diri kita biar nggak hasud sama orang lain. 


Imam Syafi'i juga pernah menuliskan dalam syairnya, "nggak akan ada habisnya orang yang hasud itu dan apa yang dia punya, kedudukan itu akan hilang, itu akan sirna." makanya dari sekarang nih, detik ini juga, kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati kita atas nikmat yang Allah berikan lebih kepada orang itu dibandingkan dengan kita, kita lihat nikmat Allah yang lain masih banyak kok. 


Allah nggak pernah untuk kehabisan memberikan nikmat kepada kita. Kita aja yang selalu merasa kurang atas nikmat Allah itu. kadang kita selalu melihat kepada ujiannya, bukan kepada nikmatnya. coba ketika ujian itu datang kita nikmati, maka dia akan menjadi sebuah kenikmatan. tapi kalau kita jadikan ujian itu beban, nah dia akan menghasilkan sifat hasud dan ketulusan hati kepada dari seorang hamba itu hilang.


hasud itu salah satu penyakit hati yang khawatir. hasud, riya, kibir, itu dosanya besar, berat juga. jadi tadi salah satu dampaknya adalah dimatikan hatinya. kalau hati seseorang itu mati, maka sulit dia untuk bisa kenal dengan Allah, dekat dengan Rasulullah. sulit bagi dia untuk menerima perkara-perkara yang baik, dan mudah bagi dia untuk melakukan maksiat. Karena hatinya itu buntung, nggak bisa diapa-apain lagi. 


kalau kita melihat orang mati aja, nggak bisa diapa-apain, diajak ngomong Nggak bisa, dinasehati nggak bisa, diajak bercanda nggak bisa. Nah makanya setelah ini Bismillah biasakan di dalam hati kita, untuk kita nggak keluar dari dars ini kecuali hati kita sudah berusaha untuk semakin Tulus lagi insya Allah. 


karena kalau gimana pun orang kepada kita, biarin. Yang penting, bagaimana kita terhadap orang-orang yang percaya dengan Allah dan Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam, bagaimana kita dengan muslim muslimat, bagaimana kita menunjukkan yang dzahir dan batin itu sama tanpa Kepalsuan sedikitpun. 


karena yang kita hindari itu adalah sifat kemunafikan dalam diri kita dan bagaimana juga kita berusaha menjaga hati kita supaya dia nggak masuk, biar dia enggak iri sama orang lain, tapi bagaimana ketika kita iri kita berusaha untuk bisa seperti dia. 


kalau Sepertinya kita ingin sesuatu daripada orang lain daripada nikmat yang dia pun ingin, maka bilang sama Allah "ya Allah, Pengin kayak gitu bantuan Ya Allah jangan ditinggal ana ya allah" gitu kalau sama Rasulullah "Ya Rasulullah bantuin bantuin Ana buat bujukin Allah". 


Jadi bagaimana kita menjadikan diri kita yang menginginkan sesuatu atas nikmat apalagi nikmat itu adalah nikmat akhirat, ya kan kita tawasul sama Rasulullah. ajak tawasul terus sama Rasulullah biar Rasulullah bantu kita buat ngebujuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Nah kalau kayak gitu keadaannya hati kita akan menjadi lebih tenang lapang bahagia gitu hati kita. tapi kalau udah hasud nih, ketulusan udah hilang , Waduh gelisah aja, melihat orang enggak ada senang-senang gitu, itu yang harus kita hindari. Insyaallah jadi mudah-mudahan setelah ini apa yang disampaikan bisa sama-sama kita amalkan di dalam hidup kita bisa bukan hanya untuk kita juga tapi untuk orang-orang di sekitar kita. sama-sama yuk sama-sama yuk menasehati seseorang yang ada di sekitar kita semakin kita mencintai orang-orang di sekitar kita. semakin sering kita mengingatkan kita entah saat itu dia menerima ataupun tidak, yang penting kita sampaikan terus dengan harapan kita bisa sama-sama baik kepada Allah dan kepada rasul. kita bisa sama-sama taat kepada Allah dan juga kepada Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dars Risalah Muawanah - Ustadzah Dara Husaien

Dars Risalah Muawwanah 11 Mei 2024

Dars Risalah Muawwanah 2 Desember 2023